Ketika Anak-Anak Tak Lagi Mau Disuapi

Dulu, setelah anak-anak bisa makan sendiri, sesekali mungkin kami menyuapi, sekadar untuk menghibur atau biasanya karena didesak waktu. Akan tetapi, saat makan sendiri sudah biasa mereka jalani, dan melekat jadi jati diri, ada saatnya mereka memang tak mau disuapi lagi.

Hal itu pun berlaku dalam belajar. Karena anak-anak telah dibentuk jadi pembelajar mandiri, dan kemudian mereka nyaman belajar tanpa instruksi, ada saatnya mereka pun tak lagi mau “disuapi”.

Belajar memasak yang asyik, bukan lagi dengan mengikuti telunjuk dan “ceramah” ibu, melainkan “nguplek” di dapur tanpa dibantu, menjajal bumbu dan resep yang dimau.

Belajar menulis yang menarik, bukan lagi dengan kursus-kursus, di mana guru menyuruh ini dan itu, melainkan dengan langsung membuat buku, yang isinya dirasa seru, lalu meminta bapak dan ibu membacanya,untuk diedit bila perlu.

Belajar tentang karakter itu, bukan lagi dengan materi di buku, di mana tulisan “karakter” bermunculan di dalamnya, melainkan dengan menyaksiksan ayah dan ibu, guru, atau kawan-kawan sepermainannya berperilaku.

Belajar mengenal dan cinta Quran itu, bukan lagi hanya lewat suruhan untuk membaca dan menghafalkan ayat-ayatnya, namun juga lewat sikap orang di sekelilingnya dalam memperlakukan Quran dan mengamalkan isinya.

Semangat belajar anak menyala, bukan ketika dikasih projek oleh orang tua, melainkan saat mereka mengerjakan projek mereka sendiri, yang idenya lahir dari kebutuhan mereka sendiri.

Sungguh paradigma tentang belajar tak bisa lagi sama dengan masa ibu sekolah dulu. Hari ini, anak-anak kita hidup di masa yang berbeda, di mana lautan ilmu terbentang di hadapan mereka. Bekal penting yang perlu kami beri tidaklah sederhana, setidaknya mungkin ada 3:

1. Perahu (kendaraan/media) untuk “menjaring” ilmu (sediakan buku bermutu, situs yang mendidik, film yang menginspirasi, kegiatan yang memicu rasa ingin tahu, teladan dari orang tua, dll)

2. Alat “ramah lingkungan” untuk menangkap “ikan-ikan” pengetahuan itu. Ia adalah hasrat membaca, hasrat mendengar, kemauan mencoba, dan karakter mau belajar (buah dari penanaman sikap rendah hati).

3. Keterampilan untuk mengolah hasil “tangkapannya”, sehingga berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya. Ia adalah aneka skill untuk mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya.

Wallahu’alam. Di antara yang terlihat baik dan benar bisa jadi ada bagian yang keliru.