Cita-Cita dan Penyetekan Tanaman

Si Kakak sudah hampir tiga bulan belajar biologi dan kimia bersama guru yang datang ke rumah (sebut saja namanya Bu Mel). Awalnya biasa saja, hanya “academic oriented”. Saya juga tidak terlalu menuntut apa-apa. Terpenting, ada jadwal belajar rutin, supaya tidak terlewat. Tapi beberapa hari lalu Si Kakak bilang, “Mah, makin lama, belajar biologi dan kimia sama Bu Mel asyik juga. Jadi kepikiran ingin masuk jurusan biologi atau kimia kalau nanti kuliah…”

Emaknya sedikit terkejut, karena sebelumnya dia mantap ingin jadi guru bahasa Inggris, walau kemudian tertarik juga jadi pustakawan. Si Emak akhirnya kembali meyakini, terlalu dini menyimpulkan cita-cita anak juga enggak tepat. Di usia pemberian input (SD-SMP), yang terpenting memang memfasilitasi mereka agar mendapat “makanan” yang cukup, baik dari sisi fisik, mental, hati, maupun otak. Tentang apa profesi mereka kelak, biarlah hal itu mengkristal setelah punya bekal yang memadai.

Proses penyetekan tanaman adalah ilustrasi yang menurut saya mirip dengan konteks di atas. Dulu saya sempat heran, mengapa jika kita ingin menyetek tanaman, dianjurkan untuk memilih batang yang cukup tua. Belakangan saya mengerti juga akhirnya.
Batang yang tua ternyata memiliki cadangan makanan (karbohidrat) yang lebih banyak daripada batang muda. Karena itu, saat proses pembentukan akar terjadi, batang yang disetek masih bisa survive sebelum akar tumbuh dan tunas muncul. Biasanya, tunas sendiri malah muncul belakangan. Sebaliknya, jika kita pilih batang yang muda, bisa jadi ia cepat bertunas, namun pada proses perakaran terjadi kegagalan. Akibatnya, tanaman itu tidak berhasil melewati fase adaptasinya, dan ia layu sebelum berkembang.