10May/120

Membantu Penyerbukan Bunga Markisa

May 10th, 2012

Azkia belajar membantu penyerbukan pada bunga markisa. Karena posisi putik ada di atas, sedangkan benang sarinya ada di bawah, markisa sering harus dibantu penyerbukannya. Entah, walaupun banyak serangga yang berada di sekitar markisa, tapiĀ  mereka tidak terlalu tertarik dengan bunga ini rupanya. Padahal menurut saya, bunga markisa itu cantik sekali.

Awalnya, ketika kawan saya Mbak Suzanna Setiawaty, penghibah tanaman markisa ini :) , memberi tahu bahwa bunga markisa harus dibantu penyerbukannya, saya hanya mencobanya dengan tangan. Dan sudah hampir 3 bunga yang saya ‘bantu’, tetap belum berhasil jadi buah. Bunga akhirnya jatuh tanpa meninggalkan buah. Namun suatu hari datang seorang tamu yang memberi tahu teknik lain, yaitu menggunakan alat bantu berupa lidi atau ranting berukuran kecil. Tidak ada salahnya mencoba, dan hore! Beberapa hari setelah itu, saat memeriksa kembali markisa kami, 2 buah markisa sudah mulai menggelantung.

Sayang jika tak dikenalkan pada anak-anak. Saya ajak Azkia mencobanya untuk 2 bunga baru. Penyerbukan bantuan dilakukan di hari Senin, dan saat hari Kamis diintip ke dalam bunga yang mulai layu, tampak bakal buah mulai membesar. Berarti, Azkia juga berhasil. Tanpa sadar aktivitas itu menjadi ajang praktikum biologi, bukan? Pengalaman nyata yang luar biasa! Terima kasih buat Mbak Suzanna ^_^.





20May/121

Anak-Anak Lebih Survive

May 20th, 2012

Halaman yang cukup luas untuk berlari membuat anak-anak saya benar-benar berlari tanpa kenal lelah. Kaki belepotan tanah, pipi dan hidung tak kalah kotornya. Mereka luar biasa senang saat melihat randa tapak menempel di ranting pohon jeruk. Luqman pun mulai berceloteh, “Padahal randa tapaknya ditanam, Kak.”

Saat memasukkan tanaman ke lobang di halaman samping, saya mendengar Azkia pun menimpali, “Tapi, randa tapak itu gulma, De. Nggak usah ditanam, dia tumbuh sendiri.”

“Gulma itu apa, Kak?” tanya adiknya.
Azkia pun menjawab, “Gulma itu bisa merusak tanaman.” Percakapan terhenti sejenak karena saya menemukan sarang rayap dan memanggil anak-anak untuk menunjukkannya kepada mereka. Tautan pengetahuan pun terhubungkan. Bacaan tentang kehidupan rayap tampil di dunia nyata.

Setelah hampir dua minggu kami tinggal di Tanjungsari, begitu banyak hal yang kami temukan dan ada banyak pula yang berubah pada diri anak-anak. Mereka terlihat lebih berani mengeksplorasi lingkungan. Azkia yang sebelumnya takut-takut menyentuh serangga dan berjinjit saat menginjak rumput karena takut basah, sekarang tampak jadi berani.

Kulit anak-anak memang tampak lebih coklat karena sering tertimpa sinar matahari langsung. Tapi hebatnya, tubuh mereka justru menjadi lebih bugar. Harapan saya untuk membuat anak-anak lebih survive di alam ternyata mulai terlihat hasilnya. Alhamdulillah.