Kembali ke Manual, Mengubah Komposisi

Baru terasa. Mengenalkan dan membawa anak-anak ke dunia digital lebih mudah dibandingkan menarik mereka kembali untuk mengambil manfaat dari hal-hal manual. Tapi alhamdulillah, kalau terus diberi contoh, minat itu kini tampak menyala lagi.

Beberapa tahun lalu, tanpa sadar anak-anak mulai akrab dengan dunia digital. Jelas bukan salah mereka. Anak-anak pada dasarnya meniru orang tua. Jika frekuensi orang tua berdigital ria sangat tinggi, mau tak mau, anak-anak pun akan tertarik hal yang sama, bak logam tersedot magnet. Apakah tak ada efek samping? Hal itulah yang ingin saya ceritakan di sini, khususnya terkait anak saya.

IMG_8052Pertama, aktivitas digital terlalu dini menyebabkan mata anak-anak lebih cepat menjadi minus untuk usia mereka yang masih muda. Bisa jadi, karena efek radiasi ringan dari monitor yang terus-menerus menyerbu mata.

Kedua, kurang bersabar dalam membuat karya. Bisa jadi, karena terlalu dimanjakan oleh proses yang instan dari komputer. Untuk menggambar misalnya, jika mahasiswa arsitektur harus berkutat berbulan-bulan untuk melatih arsiran dengan berbagai modelnya, anak-anak digital sudah diberi berkotak-kotak warna dengan gradasi berbeda di “color pallete”. Belum lagi ada software 3D semacam google sktechup yang bikin anak saya ketagihan. Nggak perlu ilmu 3D ala manual yang harus dilatih lama dengan mengatur tekanan pensil saat mengarsir.

IMG_80531

Ketiga, paparan digital terlalu dini menyebabkan efek “kecanduan” (besar atau ringan mungkin relatif, tergantung anak dan kontrol orang tua). Hal itu, mau tak mau bisa mengurangi waktu anak untuk beraktivitas fisik. Padahal aktivitas fisik bagi anak-anak adalah proses penting untuk pertumbuhan badan dan juga otak mereka.

Dulu, saya pernah membaca ramalan ilmuwan dalam sebuah majalah: kelak, manusia akan menyerupai alien: kepalanya besar namun badannya kecil. Tentu saja itu hanyalah simbol. Dan kini saya mengerti mengapa ramalan itu muncul.

Apakah dengan demikian, alat digital itu benar-benar harus ditinggalkan? Saya kira, semua harus dikembalikan kepada manfaatnya, sehingga kita bisa menimbang, seberapa banyak kadar yang diperlukan. Kehidupan dengan saling mengeliminasi (kendati hanya soal alat), itu juga tidak baik 😀 . Karena setiap orang punya kebutuhan yang berbeda. Kamipun masih sangat butuh bantuan video/tutorial online untuk membantu anak-anak belajar.

Melalui tulisan ini, saya hanya menyarankan, bagi mereka yang putra-putrinya masih kecil, dan belum terpapar “candu” digital, percayalah, mengenalkan benda “ajaib” ini nggak mesti cepat-cepat. Mereka akan sangat adaptif dalam mempelajarinya jika saatnya tiba. Selagi masih ada kegiatan belajar yang nggak mesti-mesti amat memakai alat digital, beri anak kesempatan untuk mengeksplorasi sepuasnya. Hasilnya, pasti akan menakjubkan! 😀