Oase Di Lampu Merah

Kemarin sore, di perempatan Jl. Riau-Ahmad Yani Bandung, kami terhenti karena lampu merah. Seperti biasa, nampak beberapa pemusik jalanan mulai mendekati mobil-mobil. Uang receh di dashboard kami juga sudah siap untuk menghadapi situasi itu. Tak banyak, hanya 500 atau seribu rupiah kami beri, dan mereka selalu berterima kasih dengan tulus dan sopan. Tak bisa dimungkiri, meski sekelebatan, kadang hal kecil semacam itu juga bisa membuat hati senang. Namun beberapa detik sesudah itu, sebuah peristiwa pendek membuat kami tersenyum malu.

Di tepi jalan, saat lampu belum kembali hijau, kami lihat seorang ibu berkerudung merah memanggil salah seorang pemusik. Saya pun menerka-nerka, mungkin beliau ingin menanyakan rute angkot. Tapi perkiraan saya keliru. Ternyata si ibu memberikan selembar uang. Kelihatannya 10 ribu rupiah, lalu ia mengobrol sebentar dan sang musikus tersenyum lebar. Terlintas juga sih pikiran, mungkin sang pemusik adalah kerabatnya. Soalnya si ibu terlihat akrab. Dan saya pikir, semua selesai sampai di situ.

Tapi kemudian ia melambaikan tangan ke arah barisan mobil di belakang kami. Oh, mungkin beliau ini benar-benar hendak menghentikan angkot, saya pikir. Tapi sangkaan saya salah lagi. Seorang pemusik lainnya datang, bahkan bersama 2 temannya. Sambil menenteng ukulele ia menghadap si ibu. Lembaran uang kembali diberikan si ibu kepada para pemusik itu. Si Ibu tersenyum dan tertawa, juga para pemusik yang mendapat rezeki tak terduga. Namun ternyata kegembiraan belum berakhir, seorang pemusik lainnya datang lagi. Si ibu seperti punya cadangan. Beliau berikan lagi lembaran lainnya.

Sesudah itu, tak ada angkot yang dicegat si Ibu. Tak ada cerita lainnya. Beliau nampak berpamitan kepada para pemusik, lalu menghilang di belokan.

Saat lampu kembali hijau dan mobil kami jalan, mata saya reflek mencari si ibu di belokan, namun beliau tidak ada. Mungkin sudah masuk ke salah satu mobil yang banyak terparkir di sana. Entahlah.

Yang jelas, peristiwa pendek itu bak oase bagi jiwa, mengingatkan diri: ketika kami mampu berbuat baik sedikit, di luar sana ada yang lebih banyak. Ketika diri merasa telah mampu menghargai orang lain, di luar sana ada yang lebih hebat lagi. Untuk kebaikan, selalulah merasa kurang dan jangan merasa cukup. Segala puji bagi Allah atas nikmat pelajaran, di Sabtu sore, lewat Ibu berkerudung merah.