Anak-Anak adalah Manusia, Bukan Ikan atau Burung (1)

Saya pernah membaca sebuah tulisan yang kurang lebih berbunyi, “Jangan paksa ikan terbang atau burung berenang.” Saya mengerti, ungkapan itu disampaikan sebagai kritik terhadap kurikulum yang memuat begitu banyak subjek pelajaran, sementara tidak semua anak sanggup mempelajari semuanya dengan rasa senang. Minat anak beragam sehingga tema-tema yang disukai juga tidak sama.

Sepintas, ungkapan itu nampak benar dan tepat, namun setelah saya renungkan, hal itu dapat mengandung kelemahan yang bahkan bisa melemahkan. Mengapa demikian? Karena anak-anak adalah manusia yang punya potensi jauh melampaui kemampuan satu atau dua jenis hewan. Manusia bisa mengetahui banyak hal tanpa harus dibatasi oleh sebuah definisi, baik profesi maupun bidang studi. Mereka bisa mempelajari apapun sepanjang ia mau. Adapun kadar ketertarikan terhadap sebuah subjek, adalah hal lainnya yang tidak bisa dipandang berkaitan sepenuhnya dengan minat dan bakat.

Pengetahuan Dasar Itu Penting

Tanpa sadar, orang di masa sekarang cenderung menilai segala sesuatu berdasarkan hasil dan kurang menghargai proses. Hal itu mungkin dipicu oleh budaya instan yang kian mengkristal menjadi gaya hidup. Saya termasuk orang yang juga sempat terpesona dengan segala hal yang diubah menjadi lebih cepat: membaca cepat, berhitung cepat, berkomunikasi cepat, mahir cepat, dan lain sebagainya. Namun seiring berjalannya waktu, dan bertambahnya input serta pengalaman, saya kemudian menyadari bahwa hasil akhir bukanlah segalanya. Ia hanya sebentuk hadiah yang bisa jadi juga tidak terlalu berarti apa-apa. Ia hanya salah satu indikator dari adanya proses, namun bukan tujuan akhir.

Apan contohnya? Saya sempat meremehkan pelajaran akademik, dan menganggap hal itu tidak terlalu penting, sehingga cukup diberikan kepada anak-anak sekadarnya saja. Alasan saya, karena semua pelajaran itu toh pada akhirnya tidak terlalu banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari dan juga dunia profesi masa kini. Dampaknya, kadar wawasan akademis anak-anak hanya di level permukaan. Sejak anak-anak masih kecil saya lebih banyak memberikan buku-buku dan ensiklopedia populer serta video/game pembelajaran yang kental dengan unsur hiburan. Tujuan saya, supaya anak-anak senang belajar atau  istilah keren dalam ilmu tentang otak, supaya otak limbiknya berada dalam kondisi relaks saat belajar.

Semua itu saya kira tidak salah. Semua yang sudah berlalu itu adalah konsep yang juga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Cara belajar semacam itu memang cocok untuk anak-anak usia di bawah 10 tahun. Akan tetapi, setelah usia anak mencapai 10 tahun ke atas, unsur hiburan dalam belajar sebenarnya sudah bisa sedikit demi sedikit dikurangi.  Jika sebelumnya perbadingan materi pelajaran dan hiburan diberikan dengan prosentase 30:70 atau 40:60, selanjutnya dapat diubah menjadi 50:50 atau bahkan 60:40.

Apapun bidang spesifik yang akan ditekuni anak-anak, pengetahuan dasar, sebagaimana sudah ada di dalam kurikulum pendidikan formal, menurut saya tetap penting untuk dipelajari. Materi dasar yang saya maksud adalah: bahasa, matematika-logika, dan sains. Saya harus mengakui, beberapa di antaranya memang terlalu padat dan terkesan berat. Tantangan bagi orang tua dan guru adalah mencari cara alternatif agar semua menjadi terasa lebih mudah.

Apa Saja yang Dibentuk oleh Pengetahuan Dasar?
Ketika kita mempelajari matematika  misalnya, di dalamnya juga terdapat unsur-unsur logika. Latihan-latihan yang kita lakukan untuk memahami dan mengerjakan soal-soal matematika, tanpa sadar telah membentuk kemampuan kita untuk menggunakan logika dan berpikir kritis. Sayangnya, memang belum saya temukan penelitian ilmiah mengenai hal ini, sehingga hipotesis saya ini bisa dibuktikan. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa ketika kita mempelajari matematika, kita akan senantiasa dituntut untuk memahami terlebih dahulu konsep dasarnya, baru setelah itu kita mampu mengerjakan latihan-latihannya. Tanpa pemahaman, biasanya kita mengisi soal matematika secara serampangan saja, sesuai feeling. Akibatnya, ketika hasil latihan disetorkan kepada guru, prosentase jawaban yang benar selalu di bawah lima puluh persen.

Fenomena seperti itu sebenarnya juga terjadi dalam kehidupan kita di luar sekolah. Misalnya saja, ketika datang kepada kita sebuah informasi tentang peluang bisnis, politik, dan lain sebagainya,  kita dapat memilih setidaknya tiga sikap: menerima begitu saja, langsung menolaknya, atau berpikir, menalaah, dan memahami dulu,  baru kemudian mengambil sikap. Cara berpikir matematis, dalam pemahaman saya,  bukan semata terkait hitung-hitungan angka, melainkan tentang bagaimana kita selalu membuat perhitungan yang cermat dan rasional sebelum memutuskan, supaya kita tidak merugi.

Setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan berpikir kritis, namun dalam kadar yang berbeda-beda. Bagi anak-anak, matematika dapat menjadi cara yang bagus untuk meningkatkan kadarnya. Mudah-mudahan kelak, bekal itu akan membuatnya mampu untuk terbiasa mengambil sikap dengan perhitungan yang matang dan cermat, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum diperiksa betul kebenarannya.

Tentang pemahaman, saya pernah merasakan betul dampaknya, saat duduk di bangku SMP dan SMA. Di jenjang SMP kelas 1, guru matematika saya, seorang wanita muda. Penampilan beliau terlihat efisien, nggak neko-neko. Rambutnya pendek sebahu. Riasan di wajah beliau terlihat harmonis dan terukur. Hal yang paling saya ingat, setiap kali menuliskan contoh operasi matematika, beliau memegang kapur dengan cara tidak biasa. Kapur dikepit oleh tiga jari: telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Saat menulis, ketiga jari beliau menghadap ke papan tulis, bukan miring ke belakang sebagaimana ketika kita memegang pulpen.  Dengan lincah beliau menggerakkan tangannya hingga goresan kapur membentuk angka dan variabel, sambil terus menjelaskan materi. Saya sangat terkesan dengan cara beliau menjelaskan: ringkas namun mudah dipahami.  Setiap ada pe er matematika, saya merasa sedang berpetualang dan bukan menjadikannya beban. Nilai matematika saya sangat memuaskan waktu itu.

Akan tetapi, saat naik ke kelas 2, guru matematika diganti. Beliau seorang bapak yang juga masih berusia cukup muda, mungkin baru lulus sarjana. Pendekatan beliau dalam mengajar sangat jauh berbeda dengan ibu guru favorit saya di kelas 1. Saya tidak bisa mengatakan bahwa cara beliau jelek, namun bisa jadi memang tidak cocok dengan gaya belajar saya. Akibatnya, saya seringkali tidak mampu memahami apa yang beliau jelaskan. Ketika dilakukan tes, hasilnya seringkali kurang memuaskan. Bukan tesnya yang menjadi masalah, namun baru saya sadari sekarang, sayalah yang memang belum berhasil memahami materinya.

Peristiwa semacam itu juga berulang saat duduk di bangku SMA. Cara mengajar guru matematika kelas 1 tidak cocok dengan cara belajar saya,  sehingga saya sangat kesulitan untuk mengerti materi yang diajarkan. Nilai matematika saya benar-benar kritis waktu itu ^_^. Akan tetapi, beruntung,  guru kelas 2 dan kelas 3 memiliki gaya mengajar yang lebih sesuai. Nilai matematika saya kembali naik. Saat itu saya juga yakin bahwa penyebabnya, bukan semata tentang guru yang berbeda, namun karena pendekatan yang dipakai guru-guru saya di kelas 2 dan 3, sesuai dengan gaya belajar saya. Hal itu membantu saya untuk benar-benar paham.

BERSAMBUNG……

 

Klik si burung biru untuk membaca lanjutannya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *