Anglo Mini, Udara, dan Aku Bisa!

Bermain di luar, membuat tungku, dan memasak sesuatu memang kegiatan yang mengasyikkan. Rasa senang itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh saya sewaktu kecil. Anak-anak saya pun, terutama Luqman sangat menyukainya. Kebetulan, kami pernah membeli anglo kecil untuk memasak surabi plus wadah dari tanah untuk memasaknya. Hari Kamis lalu (26/4/2012) kami mencobanya di luar.

Sebenarnya Luqman sudah ingin memakai anglo itu sejaka pertama kali dibeli, namun belum juga sempat saya menemaninya. Beberapa hari sebelum praktik dengan anglo saya minta dia menyiapkan dulu kayu bakar. Kebetulan beberapa batang pohon kersen memang saya pangkas supaya tidak terlalu rimbun. Potongan ranting kersen itulah yang dipotong-potong pendek lalu dijemur.

Nah, hari Kamis yang tunggu pun tiba. Saya mulai mengajari Luqman menyalakan api di tungku, menyusun kayu bakarnya, dan membuat selongsong bambu berdiameter 3 cm kurang lebih untuk meniup api jika mulai terlihat padam.

Hal paling menarik bagi saya, tanpa saya sengaja, tiba-tiba muncul gagasan untuk sekalian merangsang cara berpikir sains pada Luqman. Saat menyusun kayu, saya bilang, “De, tahu nggak, kayu bakar ini ya, kalau numpuknya banyak-banyak api biasanya susah menyala. Kenapa. coba?” Ia pun nampak berpikir.

“Ingat nggak, apa yang terjadi kalau api ditutup dengan gelas?” pancing saya. Kebetulan kami sudah pernah melakukan percobaan itu. Luqman pun dengan girang menjawab, “Padam”.

“Kenapa jadi padam?”, tanya saya lagi.

“Karena nggak ada udara!” serunya yakin.

“Oh, iyaa, berarti kalau kayu-kayu itu juga ditumpuk banyak-banyak, di sana jadi kurang udaranya ya?!” lanjutnya lagi senang.

“Terus, coba Ade perhatikan anglo ini. Kan bagian atasnya tidak rata seperti pot. Sebagian tinggi dan sebagian rendah. Kenapa kira-kira?”

Sambil memasukkan sedikit kertas supaya api lebih menyala, Luqman pun berseru, “Eh, asapnya keluar dari lubang sini yaa!” Ia menunjuk ke sela-sela bibir anglo yang bolong karena posisinya menjorok ka dalam.

“Berarti, ini juga supaya ada udara ya masuk ke dalam, dan asapnya bisa keluar,” katanya yakin.

Ketika api sudah mulai menyala, Luqman punya ide untuk merebus ubi saja di atasnya. Jadi, wadah buat masak surabi itu diisi air, lalu dia dengan semangat mengambil ubi mentah dari dapur. Ubi kecil-kecil kurus diletakkan di atasnya.

Tak lama kemudian, air pun mendidih. Luqman nampak gembira sekali. Satu hal lagi  tak luput dipelajari. Penguapan. Air menguap ketika dipanaskan.

Setelah cukup stabil, saya meninggalkan dia untuk mengurusi tungkunya. Tapi lima menit kemudian api mati. Luqman pun memanggil, “Ma, apinya mati!”. Saya bantuin dia dengan meniup selongsong melalui selongsong bambu dan memasukkan bahan-bahan yang lebih kering. Saya bilang ke dia, “Coba hitung, berapa kali tiupan api baru menyala?” hampir 35 kali hitungan api baru menyala.

Ketika api padam lagi  saya minta Luqman mengatasinya sendiri dengan panduan saya sebelumnya. Saya bilang ke dia, “Mama juga tadi butuh waktu lama untuk meniup sampai dia menyala.”

Luqman menjawab, “Sudah 25 kali nih, Ma!”

“Waah, mama malah 35 kali baru bisa nyala. Coba aja lagi!” kata saya santai.

Dan dia pun mencoba hingga akhirnya menyala. Tak lama kemudian, dia mulai penasaran dengan ubi yang direbusnya, pengen diangkat. Saya minta dia mengambil garpu untuk mengetes apa ubinya sudah matang atau belum. Dia pun melakukannya.

Lima belas menit berlalu, Luqman berseru girang, “Udah matang, Ma!”

Ia mengambil wadah lalu menyetorkannya ke saya. “Pas! Memang sudah matang.”

Setelah itu, apalagi kalau bukan menyantapnya. Luqman adalah penggemar berat ubi, dan begitu bangga menikmati ubi hasil dia memasak, apalagi saya juga ikut mencicipi salah satunya. Kalau saja diverbalkan, dalam hatinya ia pasti berseru, “Aku bisa!”. Rona gembira itu memancar, dan saya pun tanpa sadar sebenarnya belajar tentang kontekstualisasi ilmu. Allah sang Pemberi Ilham. Tidak ada ilham yang cerdas ataupun hebat melainkan dari-Nya. dan saya bersyukur dengan Home-Education yang saya jalani.