Homeschooling Model Apa? (Bag. 3)

Lomba/Kompetisi

Memang kerap ada kontroversi tentang dampak lomba/kompetisi, namun kami mencoba melihatnya dari sisi positif, meski mungkin ada juga sisi negatifnya. Mengikutsertakan anak dalam sebuah lomba dapat menambah pengalaman anak dan daya dorong untuk meningkatkan kualitas kemampuan mereka.

Azkia sudah pernah mengikuti lomba sejak usia 6,5 tahun. Waktu itu ia ikut lomba pemilihan duta baca, yang diselenggarakan penerbit Chilpress Salamadani. Saya masih ingat, bagaimana pada babak penyisihan, ia membacakan sebuah buku cerita yang diberikan panitia dengan lantang. Dan untuk mengendalikan stress, kakinya berayun-ayun. Waktu itu memang menjadi kali pertama ia berada di atas panggung. Meskipun tujuan utama kami hanya untuk memberikan pengalaman, rupanya beruntung, saat itu Azkia terpilih untuk lolos ke babak berikutnya dan menjadi juara 1 setelah membacakan cerita berbahasa Inggris pada babak final.

Tahun 2016, anak-anak juga berkesempatan ikut kompetisi lagi. Kali ini dalam bidang bela diri. Perguruan Kung Fu Naga Mas, tempat mereka berlatih, menyelenggarakan Home Tournament untuk wilayah Jabodetabek dan Bandung. Lokasi turnamen di Bekasi. Bersama teman-temannya dari ranting GGM, anak-anak mengikuti beberapa cabang lomba. Hasilnya, tanpa terduga, Luqman meraih medali emas dari nomor perseorangan dan medali perak dari nomor beregu. Sementara Azkia, meraih medali emas pada nomor beregu putri.

Beberapa lomba juga pernah mereka ikuti namun tidak mendapat nomor juara, misalnya Luqman ikut lomba merangkai lego dan robotik dan Azkia ikut lomba menulis. Dalam kadar yang tidak terlalu dilebih-lebihkan, kompetisi bagi kami bukan hal yang perlu dihindari. Adakalanya, anak-anak menjadi lebih bersemangat dengan kompetisi, namun bukan semata semangat untuk mengalahkan orang lain atau menang atas orang lain, melainkan semangat untuk beraktivitas mencapai sesuatu.

Nilai-Nilai dan Prinsip Hidup

Nilai-nilai kehidupan memang bersifat abstrak, namun dampaknya dapat dirasakan secara nyata dalam keseharian. Sambil kami juga terus bertransformasi dan belajar, seiring dengan itu, anak-anak juga mendapat limpahan sekaligus melimpahkan inspirasi tentang nilai kehidupan.

Saat berada di jalan ataupun di rumah, ketika ada waktu kosong kami sering berdiksusi tentang topik yang berkaitan dengan nilai dan pilihan-pilihan hidup. Pemicu diskusi kadang-kadang muncul dari film yang ditonton bareng atau dari sebuah buku yang baru ditamatkan, juga dari berita dan peristiwa yang kami alami.

Selain itu, secara rutin, beberapa bulan terakhir, kami juga menyediakan sesi belajar agama dan spiritual, muamalah, dan akhlak dengan metode yang lebih sistematis. Sekalipun tidak akan masuk materi ujian sekolah, justru inilah bekal terpenting yang dapat kami berikan, agar mereka selamat dalam menempuh kehidupan.

Anak-anak semakin besar dan semakin ingin mandiri. Tanpa pengetahuan dan kesadaran spiritual, tentu ada begitu banyak yang kami khawatirkan.  Kami sendiri tidak tahu apakah semua pelajaran yang mereka terima mampu mereka amalkan, namun semoga Allah Yang Maha Pengasih mencatat usaha kami sebagai sebuah ikhtiar yang berharga, dan tentang hasilnya, kami bertawakal kepada-Nya.

Namun demikian, terlepas dari apapun pelajaran yang kita berikan kepada anak-anak, dan apapun bidang yang akan mereka tekuni setelah dewasa nanti, satu hal yang perlu terus ditanamkan, jangan berhenti belajar. Tak ada titik untuk pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *