Kompetisi atau Sekadar Mengukur Kemampuan?

Anak-anak mengobrol dengan papanya tentang cara mencari uang. Setelah berbagai profesi disebutkan, papanya bilang kalau mengirimkan kuis atau gambar ke koran juga bisa dapat uang. Anak-anak semangat. Penasaran. Beneran nggak sih?

Dibelilah satu koran daerah edisi minggu. Banyak kolom untuk anak-anak di hari Minggu. Luqman mengirimkan kuis dan Azkia mengirim gambar yang sudah diwarnai. Mereka antusias menuliskan data mereka di kartu pos. Luqman yang tulisan tangannya masih belum bagus nampak bekerja keras. Ia tak mau dibantu.

Kesempatan, kan, papanya bilang, “Itulah gunanya Ade belajar menulis. Biar tulisannya bisa dibaca dengan jelas.” Sebelumnya Luqman memang agak malas-malasan kalau diajak belajar menulis.

Setelah diberi perangko,  tak jemu mereka mengingatkan papanya untuk mengantarnya ke kantor pos. Pergilah mereka bertiga, menyerahkan sendiri kartu pos itu ke loket pengiriman di kantor pos. Pengalaman itu buat kita mungkin tak ada istimewanya, namun bagi mereka, nampaknya sesuatu yang sangat seru :).

Seminggu berlalu. Mereka minta dibelikan lagi koran minggu untuk melihat pengumuman. Tapi, nama mereka tidak ada. Pengumuman kuis minggu lalu ternyata baru dua minggu kemudian diumumkan.

Minggu berikutnya, mereka tak lupa mengingatkan, untuk membeli koran lagi. Kami sempat menyepelekannya. Hingga sore ditunda, tapi mereka tetap fokus ingin mencarinya. Setelah hampir 3 gerai koran tutup, mereka akhirnya mendapatkan koran itu.

Dan horeee, Luqman memenangkan kuis. Yang paling lucu, nama sekolah yang ditulis di pengumuman: homeskuling, persis seperti Luqman menuliskannya di kartu pos 🙂

Azkia yang gagal menang terkompori mengirim lagi, dan dia juga berhasil akhirnya. Sekarang, Azkia mulai minta dicarikan lomba menulis dalam bahasa Inggris. Sepertinya ia tertarik ingin menjajal kemampuannya. Sedikit mengejutkan saya, tapi tak ada salahnya untuk mencoba.

Kontroversi tentang dampak kompetisi pada anak-anak pernah saya dengar, namun saya tidak pernah tamat menyimpulkannya. Saya memilih untuk mengambil jalan tengah saja. Semua tergantung niat saya kira.

Ikut lomba tidak selalu untuk berkompetisi walaupun lazimnya lomba identik dengan kompetisi.  Lomba juga bisa berarti momentum untuk mengukur kemampuan dan menumbuhkan sikap legowo ketika belum berhasil menang.