Archives

Ketika Akhirnya Kakak Kuliah

Tulisan ini bisa dibilang terlambat. Karena seharusnya, saya menuliskannya setahun yang lalu. Tapi tak apalah ya. Dengan menuliskannya sekarang, justru saya bisa lebih banyak merekam dari banyak sudut pandang.

Setelah ikut SBMTN dengan prokes ketat, tanggal 14 Agustus 2020, nama Azkia masuk dalam daftar peserta yang lolos. Alhamdulillah, Si Kakak masuk PTN dan jurusan yang dia idam-idamkan. Psikologi UNPAD.

Dan, setelah setahun, sejak Azkia kuliah, saya dibuat “speechless” melihat perkembangan dia, yang notabene menghabiskan masa sekolah sebagai homeschooler. Hal pertama, dia berani ikut beberapa kegiatan ekstra yang sama sekali belum pernah dia ikuti, termasuk kepanitiaan acara. Enggak ada sama sekali kayaknya yang namanya rendah diri. Yang ada, hanya rasa haus untuk belajar hal baru.

Saya ingat, tahun lalu, saat pendaftaran UKM buat mahasiswa baru dibuka, dia masukin proposal ke beberapa unit, ke unit taekwondo misalnya (karena di kampus nggak ada wushu/kungfu), termasuk jadi anggota BEM. Saya nggak nyangka dia se-pede itu mau daftar jadi anggota BEM 😊. Karena pengalaman berorganisasinya bisa dibilang tidak ada yang siginifikan. Dan setelah wawancara, dia memang ditolak.

Tapi herannya, dia tidak patah semangat. Dia masukin lagi aplikasi ke unit lain. Dia daftar jadi proofreader jurnal Psikologi. Sebelum wawancara, dia minta saya berdoa agar dia lolos. Setelah menunggu beberapa hari, ternyata akhirnya lolos. Saya tanya dia, kok bisa lolos, apa pertimbangannya kira-kira? Azkia bilang, mungkin karena hasil skor tes bahasa Inggris lumayan bagus dan motivasi yang kakak bilang saat wawancara. Hasil proofreading-nya sudah muncul kayaknya di jurnal psikologi terbaru.

Step berikutnya, dia daftar untuk ikut magang jadi panitia festival psikologi (Psychofest) antar kampus se-Indonesia. Karena kegiatannya daring mungkin ada pengaruhnya juga ya ke rasa berani itu. Kalau offline, dia sendiri bilang, belum tentu berani. Tapi apapun itu, saya lihat kesungguhan dia untuk belajar banyak hal di luar urusan akademik. Dan rupanya, dia lolos. Jadilah, dia tiap malam begadang di depan laptop karena banyak koordinasi dan rapat. Dan saya harus rela, kerjaan rumah nggak terlalu banyak lagi bisa dia bantuin. Kedua, IPK dia pada semester 1 tidak mengecewakan untuk ukuran anak yang tidak bersekolah formal. 3,6 lumayan kan ya. Bagi saya itu pertanda, dia memang masuk jurusan yang benar-benar dia mau.

Ketiga, pada semester 2, karena program magang pada semester 1 bisa sukses dia ikuti, dia ditawari memegang posisi koordinator acara untuk acara yang sama tahun ini. Setelah minta waktu seminggu untuk menimbang, dia akhirnya setuju. Daan, dia benar-benar sibuk dengan tiga kegiatan kepanitiaan sekaligus saat ini dan satu event di mana dia jadi peserta. Hampir tiap jam ada jadwal rapat. Nggak ada yang namanya bengong stress mikirin sesuatu atau overthinking tentang pandemi kayak emaknya. Dia berperan jadi koordinator pada tiga pertemuan dan dia jadi anggota/peserta pada jam lain. Menjelang jam 12 malam, suara orang rapat masih sayup-sayup terdengar saat saya mulai terlelap.

Dan hari ini perhelatan besar itu akan berlangsung. Dia udah siapin kuota internet banyak dan charging HP full kalau-kalau listrik mati dan wifi speedy ikutan padam. Semoga sukses acaranya! Tapi, tetap, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab, kok bisa ya?! 😊

Buku

Sebelum internet berkembang pesat seperti saat ini, alat yang kami pikir sangat hebat itu tetaplah buku sebagai juaranya. Kami kenalkan buku kepada anak-anak sejak mereka masih sangat kecil. Dimulai kepada kakak, ketika dia masih berumur 2 tahun dan kemudian adiknya.

Papa adalah mata dan suara pertama yang mengantarkan isi buku buat kakak. Dimulai dengan daya tahan kakak menyimak 1-2 menit, Papa membacakan buku cerita setiap hari. Semakin hari, daya tahan kakak menyimak buku makin bertambah, menjadi lima menit, 10 menit, dan kemudian bisa lebih dari 30 menit setelah dia makin besar.

Orang tua dulu bilang, buku adalah jendela ilmu. Harus saya akui memang hal itu benar adanya. Melalui bukulah anak-anak mengenal kosakata baru, sebagai tombol untuk penasaran mengetahui lebih mendalam tentang segala sesuatu.

Ketika anak-anak sudah akrab dengan buku, maka buku menjadi teman keseharian yang memberi hiburan sekaligus pengetahuan dan pemahaman.

Bacakanlah Buku Setiap Hari
Membacakan buku kepada anak-anak yang masih usia batita sangat memengaruhi pemahaman mereka terhadap bacaan saat mereka sudah bisa membaca sendiri. Bisa jadi, itulah nilai plus yang lambat bisa dicapai jika anak-anak hanya diajari teknis membaca namun tidak dibiasakan untuk membaca.

Kosakata baru yang ada di dalam buku ibarat tautan di internet yang membuat anak-anak penasaran untuk menjelajah lebih jauh. Tak heran jika kemudian kita akan mendengar banyak pertanyaan dari mereka gara-gara membaca buku.

Rasa ingin tahu itulah yang menjadi modal agar anak-anak menyukai belajar dan selalu aktif berpikir. Bagi para praktisi homeschooling, merawat rasa ingin tahu ini adalah keharusan, karena tanpa semangat mencari tahu, semangat menggali pengetahuan secara internal di dalam diri anak, maka proses belajar akan mandeg dan menimbulkan rasa frustrasi pada orang tua.

Peran Buku Setelah Ada Internet
Saat ini, ketika internet menjadi sangat mudah diakses melalui gawai, apakah peran buku bisa digantikan? Saya pikir tidak. Buku tetap memiliki tempat khusus yang penting untuk dikenalkan kepada anak. Selain memberi suasana yang lebih tenang, buku dapat menjadi alat untuk mengikat hubungan emosional orang tua dengan anak-anaknya.

CARA BELAJAR ANAK GENERASI Z

Suatu hari Si Kakak mengeluhkan layar HP-nya kayak gelombang. Bergerak-gerak tak beraturan, sehingga dia tidak bisa membaca pesan-pesan di WA-nya. Adiknya bilang, “Itu sih LCD-nya. Beli aja di tokped, nanti Ade pasangin.”

Tapi rupanya si kakak tidak yakin adiknya bisa. Dia tidak mau mengambil risiko. Singkat cerita, kakak minta diantar papanya ke tukang servis, dan tukang servis menjanjikan sore bisa diambil. Tapi setelah dikontak sorenya, ternyata proses servis belum selesai, karena spare part-nya tetap belum ada.

Situasi itu berlangsung hingga dua hari kemudian, spare part tetap belum ada, sehingga si kakak memutuskan untuk mengambil lagi HP-nya.

Sesampainya di rumah adiknya nanya, “Apa yang rusak kata tukang servis?”
“LCD!” Si kakak be te.
“Tuuh, kan bener. Beli aja di tokped.”
“Ya, udah, apa nama barangnya?” si kakak terpaksa menerima tawaran adiknya walaupun dia ragu berat. 😄

Kami juga ikutan bertanya berkali-kali, “Beneran Ade bisa?”
“Kan, udah banyak HP yang Ade bongkar. Tuh, berapa biji,” dia nunjuk ke tumpukan HP bekas yang memang sudah rusak.
Walaupun ada risiko, tapi kami serahkan keputusannya kepada si kakak. Dan akhirnya si kakak setuju. Tak ada pilihan lain, karena hampir semua tempat servis HP lain tutup.

“Tapi bayar, ya?” si ade tawar-menawar.
“Halah, kan belum tentu bisa.”
“Iya kalau nanti bisa.”
“Berapa?”
“Berapa kemarin tukang servis mintanya?”
“Dua ratus ribu sudah sama LCD-nya.”
“Ya udah kurangin harga LCD aja, terserah berapa.”
“Iya, iya lah … ” si kakak nyerah. 😄

Setelah spesifikasinya dicek oleh adiknya, spare part itu akhirnya dibeli di marketplace. Setelah cukup lama menunggu, kiriman spare part datang. Tapi, Si Ade request benda lain, yaitu obeng kecil. Si Papa mengantarnya beli di toko elektronik.

Usai semua proses yang lumayan alot itu, tibalah momentum utama yang paling menegangkan, yaitu memasang si LCD. Langkah pertama tentu saja membongkarnya, dan proses itu bikin deg-degan bagi si pemilik HP, karena takut ada bagian yang tambah rusak. 😄

Langkah berikutnya, barulah memasang LCD baru. Si Ade nggak mau diganggu sewaktu proses itu berlangsung. Dia menyepi di kamarnya. Dan beberapa menit kemudian dia keluar, “Nih … ” HP yang sudah dipasang LCD baru disetor ke kakaknya.

“Nyala nggak Kak?” saya ikutan kepo.
Si kakak ketawa. Layar HP-nya sudah benar-benar sembuh.
Papanya ikutan ketawa, “Ade belajar di mana memperbaiki LCD HP?”
“Ya, dari mana-mana. Dari youtube dari macem-macem. Karena udah liat berkali-kali, jadinya ngerti.”
“Udah pernah praktek masangin LCD?”
“Kalau ngebongkar sih udah sering, yang rusak-rusak itu. Tapi kalau masang mah baru sekarang.”

“What?” Si kakak menjerit …

Itulah anak generasi Z. Mau pakai gaya zaman kita untuk mengajar mereka? 😅
#pendidikanrumah

Berjuang

aatlas / Pixabay

Adakalanya saya merasa kerepotan tinggal di daerah pinggiran seperti sekarang, karena banyak kegiatan ekstrakurikuler anak-anak justru dilakukan di kota Bandung. Jarak tempuh sebenarnya nggak terlalu jauh, tapi waktu tempuh seringkali berlipat ganda karena macet. Terlebih jika terpaksa pulang malam, udara di tengah kemacetan membuat kepala pusing, karena pohon-pohon pun tak mengeluarkan oksigen, melainkan CO2.

Tapi suatu hari, saat saat ngobrol sama anak-anak tentang masalah ini, si bungsu bilang, “Tapi Mah, kalau dulu kita nggak pindah ke sini, kita nggak akan tahu arti berjuang.”

Ah, kalimat pendek dari anak, yang mendadak bikin ringan beban yang awalnya berat, walau tetap bikin saya ketawa. Sudahkah ketemu apa artinya berjuang?

Mandiri dan Problem Solver

Sehabis menonton materi “Self Driving” di https://www.indonesiax.co.id/  jadi “ngeh”, bermacam proses untuk membentuk sikap mandiri itu sangat banyak, dan bagi anak-anak kecil, dapat dimulai dengan mengenalkan aneka keterampilan tangan sehari-hari, supaya otot-otot mereka terlatih, dan secara bersamaan menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri bahwa mereka manusia yang berdaya.

Beberapa kegiatan remeh-temeh dalam kolase foto ini misalnya, sekarang sudah saya lihat hasilnya dalam bentuk kemandirian skala kecil. Kalau ada baju robek, anak-anak jahit sendiri, kalau nggak ada cemilan, mereka bikin sendiri, kalau sepeda rusak, perbaiki sendiri, listrik di kamar padam benerin sendiri. Kalau sampah organik sudah mulai menumpuk, salah satunya menggali lubang baru. Enggak ada ruang buat mengeluh. Mereka harus survive jadi problem solver saat menghadapi masalah. Mudah-mudahan istiqomah.

Homeschooling Model Apa? (Bag. 3)

Lomba/Kompetisi

Memang kerap ada kontroversi tentang dampak lomba/kompetisi, namun kami mencoba melihatnya dari sisi positif, meski mungkin ada juga sisi negatifnya. Mengikutsertakan anak dalam sebuah lomba dapat menambah pengalaman anak dan daya dorong untuk meningkatkan kualitas kemampuan mereka.

Azkia sudah pernah mengikuti lomba sejak usia 6,5 tahun. Waktu itu ia ikut lomba pemilihan duta baca, yang diselenggarakan penerbit Chilpress Salamadani. Saya masih ingat, bagaimana pada babak penyisihan, ia membacakan sebuah buku cerita yang diberikan panitia dengan lantang. Dan untuk mengendalikan stress, kakinya berayun-ayun. Waktu itu memang menjadi kali pertama ia berada di atas panggung. Meskipun tujuan utama kami hanya untuk memberikan pengalaman, rupanya beruntung, saat itu Azkia terpilih untuk lolos ke babak berikutnya dan menjadi juara 1 setelah membacakan cerita berbahasa Inggris pada babak final.

Tahun 2016, anak-anak juga berkesempatan ikut kompetisi lagi. Kali ini dalam bidang bela diri. Perguruan Kung Fu Naga Mas, tempat mereka berlatih, menyelenggarakan Home Tournament untuk wilayah Jabodetabek dan Bandung. Lokasi turnamen di Bekasi. Bersama teman-temannya dari ranting GGM, anak-anak mengikuti beberapa cabang lomba. Hasilnya, tanpa terduga, Luqman meraih medali emas dari nomor perseorangan dan medali perak dari nomor beregu. Sementara Azkia, meraih medali emas pada nomor beregu putri.

Beberapa lomba juga pernah mereka ikuti namun tidak mendapat nomor juara, misalnya Luqman ikut lomba merangkai lego dan robotik dan Azkia ikut lomba menulis. Dalam kadar yang tidak terlalu dilebih-lebihkan, kompetisi bagi kami bukan hal yang perlu dihindari. Adakalanya, anak-anak menjadi lebih bersemangat dengan kompetisi, namun bukan semata semangat untuk mengalahkan orang lain atau menang atas orang lain, melainkan semangat untuk beraktivitas mencapai sesuatu.

Nilai-Nilai dan Prinsip Hidup

Nilai-nilai kehidupan memang bersifat abstrak, namun dampaknya dapat dirasakan secara nyata dalam keseharian. Sambil kami juga terus bertransformasi dan belajar, seiring dengan itu, anak-anak juga mendapat limpahan sekaligus melimpahkan inspirasi tentang nilai kehidupan.

Saat berada di jalan ataupun di rumah, ketika ada waktu kosong kami sering berdiksusi tentang topik yang berkaitan dengan nilai dan pilihan-pilihan hidup. Pemicu diskusi kadang-kadang muncul dari film yang ditonton bareng atau dari sebuah buku yang baru ditamatkan, juga dari berita dan peristiwa yang kami alami.

Selain itu, secara rutin, beberapa bulan terakhir, kami juga menyediakan sesi belajar agama dan spiritual, muamalah, dan akhlak dengan metode yang lebih sistematis. Sekalipun tidak akan masuk materi ujian sekolah, justru inilah bekal terpenting yang dapat kami berikan, agar mereka selamat dalam menempuh kehidupan.

Anak-anak semakin besar dan semakin ingin mandiri. Tanpa pengetahuan dan kesadaran spiritual, tentu ada begitu banyak yang kami khawatirkan.  Kami sendiri tidak tahu apakah semua pelajaran yang mereka terima mampu mereka amalkan, namun semoga Allah Yang Maha Pengasih mencatat usaha kami sebagai sebuah ikhtiar yang berharga, dan tentang hasilnya, kami bertawakal kepada-Nya.

Namun demikian, terlepas dari apapun pelajaran yang kita berikan kepada anak-anak, dan apapun bidang yang akan mereka tekuni setelah dewasa nanti, satu hal yang perlu terus ditanamkan, jangan berhenti belajar. Tak ada titik untuk pendidikan.

Homeschooling Model Apa? (Bag. 2)

Pelajaran Akademik
Pelajaran akademik formal mulai kami kenalkan saat anak-anak memasuki usia 9 tahun. Jumlahnya belum terlalu banyak dan tidak semua pelajaran. Belajarnya hanya sekitar 30 menit saja sehari. Meski dengan jadwal yang kadang tidak kami tepati, sedikit demi sedikit anak-anak mulai akrab dengan model pembahasan materi sekolah.

Kehadiran web belajar seperti zenius.net lumayan membantu anak-anak untuk memperoleh tambahan pemahaman. Namun setara dengan frekuensinya yang sedikit itu, tidak semua materi pelajaran akademik formal tergali dengan baik. Hal itu terlihat saat anak-anak mengikuti ujian kesetaraan SD. Nilainya biasa-biasa saja, tidak jelek meski juga tidak sangat bagus.

Setelah lulus SD dan memasuki jenjang SMP, si kakak mulai meminta belajar dengan guru. Belajar online di zenius rupanya tidak sepenuhnya membuat ia nyaman. Salah satu penyebabnya, karena ia tidak bisa bertanya ketika tidak mengerti. selain itu, saya menduga, ia juga butuh interaksi supaya tidak jenuh saat belajar. Selama Azkia menempuh fase SMP, kami mendatangkan satu orang guru untuk pelajaran eksakta, yaitu untuk mengajar kimia dan matematika. Adapun fisika, masih bisa mengandalkan zenius dan bertanya kepada papanya. Dan untuk pelajaran lain yang bersifat hapalan, Azkia biasa membaca sendiri buku paket, dengan sesekali bertanya kepada kami. Alhamdulillah Azkia lulus ujian kesetaraan SMP tahun 2017.

Sekarang, ketika Luqman sudah SMP dan Azkia SMA, kami pun mendapat permintaan baru, kedua-duanya siap belajar keluar, tidak privat di rumah. Awalnya, kami mencoba mengumpulkan kawan-kawan homeschooler yang anaknya sebaya untuk belajar bareng dengan mendatangkan guru. Kami mengalah untuk datang ke Bandung dari Tanjungsari setiap kali jadwal belajar berlangsung. Akan tetapi, ternyata tidak terlalu banyak yang berminat dengan pola itu. Kelas belajar bersama itu hanya berlangsung 3-4 bulan dan hanya diikuti oleh 2 anak, termasuk anak-anak kami. Mengingat anggaran menjadi terlalu besar jika kami ke Bandung dan harus menyewa ruangan, akhirnya kami putuskan untuk mencari lembaga bimbingan belajar dengan kelas kecil di sekitar tempat tinggal kami.

Jika sebelumnya kami agak perfeksionis dalam memilih, pada kesempatan ini kami coba turunkan standarnya. Alhamdulillah, kami temukan dua lembaga sebagai pilihan. Setelah kami minta anak-anak untuk memilih dan berunding, mereka belajar di dua lembaga berbeda. Dan seperti biasa, kami tetap memberi kelonggaran kepada mereka untuk mencoba terlebih dulu sebelum betul-betul memutuskan untuk terus belajar. Selain karena ada fasilitas trial dari kedua lembaga itu, hal itu juga untuk melatih dan menguji keseriusan mereka.

Setelah 1-2 mingggu kegiatan belajar berlangsung, mereka rupanya betah. Sekarang sudah hampir 4 bulan anak-anak rutin belajar di lembaga bimbel. Jadwal Azkia mungkin yang paling padat. Ia bisa punya jadwal 4-5 kali dalam seminggu, masing-masing sekitar 2-4 jam sehari. Konsepnya kelas, namun juga ada sesi semi privat karena Azkia tidak bisa ikut kelas pada hari Sabtu. Setiap sabtu agenda anak-anak berpusat di Bandung untuk latihan bela diri dan programming.

Luqman, yang dulu tidak terlalu suka belajar akademik dengan cara konvensional, apalagi duduk lesehan, kini menemukan guru yang asyik. Ia sedang merasakan sebuah pencerahan, karena menurutnya, pelajaran yang dulu susah ia pahami, sekarang menjadi sangat gampang setelah belajar bersama guru barunya. Ia hanya belajar dua kali dalam seminggu, untuk 2 materi pelajaran, yaitu matematika dan IPA.

Hal baru yang mungkin sangat menggembirakan bagi anak-anak setelah ikut bimbel, adalah bisa pergi naik angkot sendiri ^_^. Hal itu menjadi semacam impian aktualisasi diri yang menjadi nyata. Intinya adalah hasrat untuk mandiri.

 

Homeschooling Model Apa? (Bag. 1)

Istilah homeschooling (HS) memang bisa dikatakan baru di Indonesia. Oleh karena itu, tak heran kalau pada masa awal forum diskusi HS dibuka di mailing list yahoo, teori-teori HS dan pendidikan alternatif yang dibahas para praktisi HS banyak bersumber dari luar negeri. Saya pun jadi akrab dengan nama-nama Waldorf, Charlotte Mason (CM), John Holt, dan istilah baru seperti eclectic homeschooling, afterschooling, unschooling, dan yang sejenis. Lalu, model homeschooling mana yang akhirnya kami pilih?

rawpixel / Pixabay

Ketika anak-anak masih berusia 4 tahun hingga 8 tahun, kami tidak memilih kurikulum homeschooling manapun secara khusus. Kami hanya menerapkan konsep pengasuhan dan pendidikan anak yang bersifat umum. Kegiatan berlangsung secara spontan saja, yang penting menyenangkan dan menambah keterampilan maupun pengalaman anak.

Hal yang paling kami konsentrasikan adalah input berupa bacaan. Sejak kecil (usia 1-2 tahun), kami sudah biasa membacakan buku kepada anak-anak. Dampaknya, minat baca mereka bisa terstimulasi dengan baik. Setelah anak-anak bisa membaca sendiri, mereka sudah terbiasa asyik dengan buku di sela-sela waktu kosong, baik di rumah maupun di luar rumah saat kami bepergian.

Selain bacaan, kami juga sediakan beragam CD edukatif sebagai tontonan. Banyak pelajaran sains yang lebih mudah dipahami lewat film/video. Akibatnya, pada usia yang sangat muda, anak-anak sudah dapat mengenal dan memahami beberapa istilah sains.

Hal penting lainnya yang kami berikan kepada anak-anak, adalah pengalaman berinteraksi dengan alam sekitar. Lokasi rumah kami yang dekat dengan pesawahan, sungai, dan bukit, mempermudah kami melakukan agenda tersebut. Kami ajak anak-anak berjalan ke pinggiran kampung, ke sawah, atau ke sungai.

Kami juga kenalkan kepada mereka  kegiatan memelihara hewan ternak dan bermain di kebun. Anak-anak pernah memelihara ayam, burung, dan merpati. Kami juga sempat memelihara ikan di kolam buatan. Karena di samping rumah masih tersedia lahan kosong, sebagiannya kami tanami beberapa jenis sayuran, umbi, dan kacang-kacangan. Meskipun belum dalam konteks yang serius, anak-anak setidaknya pernah mengalami kegiatan bercocok tanam, bergelut dengan tanah, menyiram tanaman, mencangkul, menebarkan benih, dan memanen.

Keberadaan  kebun kecil di samping dan di depan rumah juga telah mengundang aneka serangga datang. Hal itu sangat menguntungkan, karena secara tidak langsung, anak-anak memperoleh bahan baku nyata untuk berinteraksi dengan objek-objek pelajaran sains. Kupu-kupu, lebah, kumbang, aneka ulat, berupa-rupa belalang, cacing, dan banyak lagi, bisa kami temukan di kebun. Banyak di antara hewan-hewan itu sudah mereka baca informasinya di buku. Ketika semuanya hadir di depan mata, dengan mudah anak-anak mengoneksikannya dengan pengetahuan yang sudah mereka peroleh.

Anak saya yang paling kecil (Luqman), sangat senang menangkap kupu-kupu. Kadang-kadang ia menggunakan jaring, namun di lain waktu ia menangkapnya langsung dengan tangan. Ada hal unik dari kebiasaannya itu. Kupu-kupu yang ditangkapnya biasanya akan dilepas kembali. Akan tetapi, sebelum si kupu dilepas, ia akan mengelus-ngelus kepalanya selama beberapa detik, lalu ia letakkan si kupu di jari atau telapak tangannya. Alhasil, si kupu akan hinggap terdiam beberapa lama di tangannya. Setelah puas, si kupu dibiarkan terbang kembali.

Lewat kegiatan informal di kebun, anak-anak juga dapat langsung menyaksikan proses metamorfosis kupu. Mereka mengambil beberapa ulat kupu jeruk, lalu meletakkannya di dalam stoples yang ditutup kain kasa. Beberapa kali mereka menyaksikan tahapan demi tahapan dari ulat menjadi kepompong dan akhirnya menjadi kupu yang cantik. Semuanya tak hanya mereka baca dalam buku, namun langsung mereka saksikan sendiri.

Memasak
Mengolah makanan menjadi hal penting lainnya yang kami kenalkan kepada anak-anak. Kami ajak anak-anak memasak serta belajar mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang ringan-ringan. Pada usia 8-9 tahun, anak-anak mulai memasak telur, membuat mie sendiri, merebus kacang dan umbi-umbian, membuat pisang goreng, dan membuat  minuman hangat. Kegiatan itu secara tidak langsung menambah rasa percaya diri mereka dan tentu saja menambah keterampilan mereka. Tanpa latihan, saya melihat, banyak anak yang sudah remaja pun gagap untuk melakukan kegiatan memasak. Akibatnya, mereka lebih dominan menyantap makanan instan dibandingkan mengolah makanan sendiri.

Setelah usia 9 tahun, kami mulai mengikutsertakan anak-anak dalam kegiatan yang diselenggarakan orang lain. Hal itu kami maksudkan agar anak-anak secara perlahan tak lagi bergantung kepada orang tuanya dan bersamaan dengan itu juga agar mereka mulai berlatih untuk membangun interaksi yang positif dalam sebuah komunitas. Mereka mulai ikut perguruan bela diri, dan si kakak juga mulai belajar piano. Sekali dalam sebulan, kadang-kadang kami juga berkumpul bersama anggota komunitas HS untuk melakukan kegiatan.

Hasta Karya

Kegiatan lain yang bersifat keterampilan tangan, seperti membuat kerajinan, menggambar, melukis, menjahit, menyulam, juga sesekali kami lakukan meski tidak terlalu serius.

Luqman, mungkin dominan dalam hal ini. Ia punya ‘passion” sendiri yang berbeda dari kakaknya. Sejak umur 4 tahun, ia sudah aktif menggunakan gunting dan bahkan membongkar sekrup roda sepeda dengan kunci. Ia rajin membuat aneka pedang dan kostum perang ala abad pertengahan. Satu ruangan bisa penuh dengan bermacam-macam pedang dari kertas.

Setelah makin besar, secara bertahap  ia  mulai tertarik mengolah bahan-bahan yang lebih berat, seperti kayu dan logam. Ia banyak belajar dari beberapa channel pembelajaran “woodworking” di youtube, dan sesekali mencobanya sendiri.

Pada usia 13 tahun, beruntung, kami menemukan komunitas kreator kayu di Bandung, dan mengikutsertakan Luqman di dalam salah satu workshopnya. Usai ikut workshop, tak tertahankan, ide-idenya berhamburan. Ia mencoba membuat mejanya sendiri, membuat meja dapur, meja sudut pesanan kakaknya, dan beberapa yang lainnya. Hasilnya memang belum sempurna, dan ia mengakui bahwa masih perlu belajar lagi.

Selain dunia kayu, Luqman juga menyukai komputer grafis dan programming. Saat ini ia sedang ikut program belajar arduino system. Ia semakin terinspirasi menekuni kayu dan arduino, karena mentornya di youtube juga ternyata menekuni kedua subjek pelajaran itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

BERSAMBUNG

 

 

Guru Yang Menyenangkan

Obrolan dengan Si Kakak (15 tahun 5 bulan).
Azkia: Apakah ketika seorang guru bisa membuat muridnya menyukai pelajaran adalah sebuah prestasi yang besar?

Saya: Ya, dari sisi si guru tentu saja, karena untuk bisa seperti itu memang nggak mudah. Tapi dari sisi seorang murid, ketika kita hanya menunggu guru yang menyenangkan untuk mau belajar, tentu saja kita sendiri yang rugi.

Azkia: Kenapa memangnya?
Saya: Pertama, jumlah guru yang seperti itu kemungkinan tidak banyak dan kedua, kan yang butuh ilmu itu kita. Ada hal-hal yang bisa kita abaikan kalau fokus kita untuk mencari ilmu. Apa guru kakak di beberapa tempat kursus itu enak semua cara ngajarnya?

Azkia: Enggak juga sih, paling cuma satu atau dua yang benar-benar bagus.

Saya: Kenapa Kakak mau terus belajar?
Azkia: Yaa ya…
———————-
Percakapan semacam ini kian sering saat anak makin besar. Mari menikmati!