Menakar Konten Buku Sastra Untuk Pendidikan Anak

Dalam rangka meningkatkan level/bobot bacaan anak-anak, saya mulai mengumpulkan buku-buku sastra karya pengarang generasi lama. Tapi sebelum mereka membacanya, saya merasa perlu untuk menyeleksinya terlebih dulu.

Salah satu buku yang sudah saya baca adalah “Harimau! Harimau!”. Buku ini populer di kalangan penyuka dan pemerhati sastra, dan telah memenangkan penghargaan. Latar dan alurnya menarik, dan pesan-pesannya kuat. Hanya satu yang disayangkan, di beberapa bagian, ada deskripsi cerita yang tidak layak dibaca anak-anak, yang dan bahkan untuk orang dewasa pun deskripsi itu sebenarnya tidak diperlukan.

Saya bisa melewati bagian-bagian yang tak perlu itu, tapi anak-anak belum tentu. Lalu, apa yang harus dilakukan agar anak-anak tetap membaca buku-buku karya pengarang besar tanpa harus membaca bagian yang tak pantas? Cuma berharap, dalam cetakan berikutnya, editor bisa memangkas bagian itu ๐Ÿ˜€ .

Sedikit menengok ke belakang. Pernah saya menonton satu sinetron dibintangi Mutiara Sani di era jayanya TVRI. Baru sekarang saya mengerti betul alur ceritanya. Dikisahkan ada seorang guru bahasa Indonesia yang ingin mengajarkan sastra secara kontekstual. Ia meminta murid-muridnya untuk mau membaca buku aslinya, bukan hanya sinopsisnya (bagus sebenarnya). Namun salah satu buku yang kemudian dipersoalkan sekolah adalah buku berjudul, “Belenggu”. Pihak sekolah merasa si guru telah berlebihan meminta anak-anak untuk membaca buku itu, karena temanya yang dianggap vulgar. Si guru kemudian dikeluarkan (saya lupa persisnya).

Sekarang, saat saya berada pada posisi sebagai orang tua dan saya juga mendapatkan input tentang besarnya pengaruh bacaan bagi anak, bisa memahami keresahan pihak sekolah. Bedanya, jika dulu bacaan dengan kategori bermutu-aman masih sulit ditemukan, kini semuanya sudah berubah. Kita bisa memilih bermacam variasi. Untuk memperoleh tujuan yang sama (kualitas, hiburan, dan pelajaran), kita bisa memilih kategori lain, yaitu aman.

Alhamdulillah banyak karya penulis masa kini yang isinya memang diperuntukkan dan aman bagi segala usia. Banyak juga buku-buku klasik diterbitkan ulang, dengan banyak penyuntingan, demi kelayakannya dibaca anak-anak. Pro dan kontra tentang hal ini memang tetap ada. Ada yang menganggap, editing berlebihan telah merusak karya aslinya, namun di sisi penerbit, kepentingan pembaca dalam kerangka hari ini bisa jadi lebih dijadikan pertimbangan.

Namun untuk buku sastra masa lalu, karena tak punya kapasitas sebagai editor atau penerbit ๐Ÿ˜€ , saya memilih mengisahkan ulang kepada anak-anak saya yang sudah “teen” intisari ceritanya, sama seperti buku pelajaran bahasa Indonesia jaman baheula ๐Ÿ˜€ . Mungkin hal itu tidak cukup, tapi tetap jadi pilihan terbaik bagi saya daripada anak-anak malah membaca hal-hal yang tak pantas, sementara mereka belum punya kemampuan untuk menyaringnya.