Menggosip Itu Memang Melenakan

Istighfar. Mungkin itulah yang lebih banyak harus saya lakukan. Betapapun telah berulangkali membaca peringatan keras dalam surat *Al Hujuraat:12, namun lidah ini memang tak bertulang. Masih saja saya terjebak pada pembicaraan sia-sia saat berjumpa dengan teman atau kerabat.

Perjumpaan dengan teman, berkumpul dalam waktu beberapa jam, sebenarnya bisa berakhir penuh berkah jika diisi dengan kegiatan bertukar pikiran, mengangkat dan membedah ide-ide perubahan menuju lebih baik. Sayangnya, hal itu sering berbeda dari harapan. Tetap saja, belokan-belokan topik menuju gosip dan perbincangan tak perlu menggoda dan melenakan saya. Lupalah sudah apa yang dipesankan Nabi saw, “Katakan yang baik atau diam”.

Awalnya berbincang tentang pendidikan anak, tanpa terasa kadang membelot jadi menggosip kejelekan anak-anak orang lain, lalu menilai pilihan-pilihan hidup orang lain, lalu menduga-duga apa yang menjadi latar belakangnya, dan kadang-kadang tanpa terasa juga menjadi getol membanggakan anak sendiri, seolah mereka tak punya cela sedikitpun. Rasa ujub lalu menyeruak, dan membakar hasrat untuk berbenah, sedemikian rupa sehingga perbincangan menjadi tiada guna.



Beberapa orang yang saya kenal memang juga mulai menghindari komunikasi berlebihan di media sosial karena menganggapnya berpotensi menimbulkan salah paham. Namun sebenarnya, di dunia nyata pun tantangan itu tak lantas menjadi hilang. Karena itu, hakikatnya adalah kendali dari diri kita sendiri. Ketika sharing itu memang diperlukan, maka bagikanlah, namun jika itu malah menimbulkan polemik maka tinggalkanlah.

Berada dalam kesendirian bukanlah sebuah persoalan besar, manakala diisi dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Menggosip? Ya Allah, semoga Engkau senantiasa memberi hamba-Mu ini bimbingan dan iradah yang kuat untuk menghindarinya. Apalah yang hendak hamba bawa ke hadapanMu manakala amal yang sedikit ini pun lenyap dihempas olehnya.

——————————————————————————————————————–
Q.S Al Hujurat:12
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

(Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *