Obrolan Sebelum Tidur

Malam tiba, aura tidur mulai keluar. Sprei pun sudah dirapikan. Sebagian anak mungkin masih punya sisa energi untuk melanjutkan rasa penasaran mereka terhadap sesuatu. Termasuk anak kedua saya Luqman, menjelang tidur seringkali masih asyik dengan tali temali yang diikatkan di kursi atau meja. Sementara kakaknya Azkia, biasanya masih sibuk dengan pensil warna dan gambarnya yang sedang diwarnai. Semua mengalir tanpa komando, dan kami menikmatinya.

Saat mereka merasa siap untuk tidur,dengan kaki bersih dan perasaan damai menghampiri kami, sebuah perbincangan pendek tak terasa bergulir malam itu.

Terinspirasi dari buku 10 Prinsip Spiritual Parenting, saya mengajak anak-anak menikmati saat menjelang tidur itu. Saya katakan pada mereka, “Alhamdulillah, enak sekali ya bisa tidur di atas kasur. Anak-anak jalanan mungkin tak punya kasur untuk tidur”.

“Kenapa anak-anak jalanan nggak punya kasur?” tanya si kecil Luqman antusias.

“Karena papa dan mamanya nggak punya uang buat beli kasur. Mungkin juga mereka tidak punya rumah untuk berteduh kalau hujan dan panas,” kata saya.

“Tapi kan ada pohon,” celetuk Azkia.
“Iya, sih! Tapi kalau anginnya kencang, mereka bisa kedinginan,” ujar saya.

Luqman tercenung dan berkata, “Jadi, anak-anak jalanan nggak punya kasur buat tidur. Papa dan mamanya nggak punya uang buat beli kasur, iya Ma?”

“Iya. Jadi kita harus bersyukur kepada Allah karena kita masih bisa tinggal di rumah yang punya dinding, tidak akan kedinginan dan kehujanan,”

Celotehan pun melebar ke mana-mana, hingga kue-kue yang kadang tidak dihabiskan setelah dibeli. Mereka punya pendapat dan kadang-kadang menyimpulkan sendiri.

Sering setelah malam itu, kami membiasakan diri untuk mengajak anak-anak mengobrol tentang sesuatu sebelum tidur. Memasukkan nilai-nilai mungkin cukup sulit jika berwujud perintah dan larangan ketika mereka sedang beraktivitas. Tetapi menjelang tidur, ternyata hal itu nampak begitu alami, mengalir tanpa protes dan kemarahan.

Leave a Reply