Tidak Selalu Karena Uang (2)

Sekitar 8 tahun yang lalu, kami pindah rumah sekaligus pindah kota dan pindah kabupaten. Berhubung rumah yang kami beli masih bertipe 36 asli, dan belum ada dapur, ibu saya memboyong 4 orang tukang dari kampung untuk membangun dapur.

Setelah beberapa hari para tukang bekerja, bergulirlah cerita, curhat lebih tepatnya, dari salah seorang yang paling tua di antara mereka. Beliau sebenarnya menjadi penyambung lidah dari salah seorang tukang yang paling muda. Maklumlah, anaknya memang pemalu. Sebut saja si pemuda ini bernama Amir.

Istri Amir, sebutlah Iin, bekerja sebagai TKW di Arab Saudi sudah hampir dua tahun. Tapi beberapa bulan terakhir, kontak Amir dengan istrinya terputus. Saat dihubungi lewat telepon ke rumah majikannya, yang mengangkat malah teman istrinya. Dan menurut si teman ini, Iin sempat masuk rumah sakit dan sekarang ada di KBRI.



Persoalannya, bagaimana mengontak KBRI untuk menanyakan kepastian kabar itu, dan bagaimana juga caranya agar Iin bisa pulang. Beberapa orang sempat dimintai bantuan, termasuk PJTKI yang mengirimnya, namun mereka minta dana yang besar, dan sama sekali belum ada perkembangan dan juga kabar yang jelas.

Amir dan keluarganya belum punya dana cukup karena kondisi ekonomi mereka yang pas-pasan. Namun jika kabar sudah jelas, sekalipun harus membayar, setidaknya jelas juga berapa uang yang harus dicari, sekalipun harus menjual tanah atau kebun.

Saya termangu mendengar cerita itu, dan bingung juga bagaimana cara membantunya. Tiba-tiba, suami saya bilang, “Bukannya Mama punya teman yang kerja di deplu. Coba aja tanya, barangkali bisa ngasih info.” Wah, rasanya seperti mendapat cahaya. Saya baru ingat, adik kelas saya memang ada yang berkarir di deplu.

Saya langsung buka email, dan menceritakan sekilas persoalan Amir. Adik kelas saya saat itu masih sedang bertugas di Ukraina, kalau nggak salah. Alhamdulillah, ia merespon dengan cepat, dan merekomendasikan untuk menghubungi kawannya yang bertugas sebagai staf KBRI di Jeddah. Email itu pun di-cc kan kepada temannya, dan saya juga mendapat nomor kontak beliau. Satu langkah, mulai menemukan titik terang.

Bermodalkan HP Smart, yang waktu itu sedang gencar promo murah telepon ke luar negeri, saya menghubungi staf KBRI yang direkomendasikan. Dalam hati, terus terang saya sendiri ragu, apa iya beliau mau bantu. Karena kalau mendengar berita-berita, bahkan berita dari kampung, orang yang terjebak di KBRI biasanya malah susah pulang, karena kadang ada oknum yang minta tebusan.

Tapi, keraguan saya abaikan. Namanya juga usaha. Harus dicoba dulu sebelum mengambil kesimpulan. Dengan izin Allah, sambungan telepon terhubung, dan saya langsung ceritakan masalah Amir.

Jauh berbeda dari pemberitaan yang selama ini saya dengar, beliau di seberang telepon tanpa basa-basi langsung minta data istri Amir, nama PJTKI yang mengirim, dan kalau bisa saya kirim foto dan kartu identitas yang bisa membantu via email. Sampai tahap itu saja, saya juga merasa lega. Dan saat saya ceritakan kepada Amir, ia terharu. Ia memberikan data yang saya minta, termasuk foto istrinya yang sudah kusam di dalam dompet.

Saya langsung kirimkan semua data itu kepada si bapak staf KBRI. Nggak sampai hitungan jam, beliau mengontak saya. Data tersebut terlacak di KBRI. Nama desa dan kabupaten tepat semua. Nama PJTKI yang ternyata sudah kena black list juga terlacak. Dan beliau mengabarkan bahwa Iin mengalami penyiksaan di tempat kerjanya, ia sempat masuk rumah sakit dan sekarang ada di penampungan di KBRI. Sebenarnya ia sudah dijadwalkan pulang beberapa bulan lalu, tapi saat akan masuk pesawat, Iin histeris sehingga tidak jadi dipulangkan. Setidaknya informasi itu sudah menjadi alat bantu yang bisa menghilangkan kebingungan.

Mata Amir berlinang mendengar cerita itu.
Pe er berikutnya, bagaimana caranya agar Iin bisa pulang? Bapak staf KBRI sudah saya tanyai mengenai hal itu, dan saya tinggal menunggu konfirmasi beliau.
Sekitar dua hari sesudah mendapat kabar kejelasan Iin, Amir dan para tukang lainnya pulang. Pengerjaan dapur untuk sementara selesai. Mereka juga sudah rindu keluarganya masing-masing, dan kami juga harus rehat dulu untuk menyegarkan suasana. Walau bagaimanapun renovasi bukan hanya menguras dana, tapi juga energi dan perhatian.

Beberapa hari berlalu. Komunikasi via telepon pindah ke email. Suatu hari adik kelas saya mengabarkan bahwa temannya di KBRI Jeddah sudah mengurus kepulangan Iin. Saya terkejut. Kok cepat sekali. Lalu saya pastikan kabar itu via telepon lagi. Dan subhanallah, Bapak dari KBRI itu memberikan informasi tanggal dan nomor penerbangan Iin.

Kelu rasanya lidah, tapi saya tetap harus bertanya, “Pak, ada dana yang harus dibayar?” Sesaat saya khawatir menunggu jawaban. Kalau jumlahnya terlalu besar, kasihan Amir, dari mana ia bisa mendapatkan uang.
“Tidak ada. Semua ditanggung negara?”
“Betul Pak? Sama sekali tidak ada?” saya berusaha meyakinkan diri.
“Tidak ada.” Suara dari seberang begitu tegas.
Saya pun mengucapkan terima kasih dan salam.

Saya pantau data kedatangan pesawat di internet, untuk memastikan, apakah info yang saya dapat memang benar adanya. Setelah saya masukkan nomor penerbangan yang diberikan, dan ternyata benar rutenya Jeddah-CGK, barulah saya kabari ke Kampung. Alhamdulillah, ibu saya, yang saat itu masih punya kendaraan, mau mengantar Amir untuk menjemput.

Tiba hari penjemputan, saya terus mengontak ibu saya untuk mengetahui perkembangan. Tetap saja, terselip rasa ragu di hati, benarkah informasi yang saya peroleh. Jika tidak benar, saya merasa kasihan kepada Amir yang pastinya sudah berharap banyak.

Setelah berjam-jam ada di bandara, dan jam kedatangan sudah berlalu sekian waktu, ibu saya mengabari, Iin masih belum ditemukan. Hati saya cemas. Saya minta penjemput coba menyambangi beberapa terminal sekaligus untuk mencari. Dan atas info dari kawan saya, memang TKW kadang sering diarahkan ke terminal khusus TKW.

Alhamdulillah, tak berapa lama kemudian, sekitar jam 10 malam, para penjemput sudah bertemu dengan Iin. Mereka tiba di kampung dengan selamat dini hari dengan beberapa peristiwa kecil khas penjemputan TKW.

Keesokan harinya, ibu saya bercerita, di tubuh Iin memang ada beberapa luka. Salah satunya yang paling mencolok adalah luka bekas seterika. Dan dalam beberapa kesempatan, Iin sering terlihat masih syok serta depresi. Pilu rasanya hati saya. (Karena itu, saya mendukung sekali jika saat ini pemerintah menghentikan dulu pengiriman TKI untuk sektor domestik.)

Tak lama sesudah itu Amir menelpon saya. Setelah mengucapkan terima kasih dan menitipkan ucapan terima kasih juga kepada adik kelas saya dan juga Bapak di KBRI, ia bertanya, “Berapa saya harus bayar?”

Entah kenapa hati saya sedih mendengarnya. Saya cuma keluar uang tak sampai 80 ribu rupiah, hanya untuk pulsa telepon. Sisanya hanya modal bicara dan ngetik. Kalaupun harus dicari yang paling berjasa, tentunya yang mengurus kepulangan Iin secara langsung. Dan mereka pun tidak minta bayaran, sepeser pun.

Mungkin betul, para petugas KBRI melakukan semuanya karena itu memang tugasnya. Tapi, di saat ini, dan bahkan di saat kapanpun, di mana segelintir orang ada yang menggunakan posisinya bukan untuk menolong atau meringankan kesulitan orang, tapi malah memeras dan menzalimi, maka lurusnya para petugas KBRI yang saya temukan itu adalah “harta karun”. Semoga kebajikan itu senantiasa menyinari hati dan tercatat sebagai amalan sedekah beliau-beliau semuanya. Mungkin bukan untuk hari ini, tapi untuk bekal dalam keabadian.

Tidak selalu karena uang. Kebajikan itu adalah dorongan fitrah jiwa.

Kisah ini juga pengingat bagi saya: bantuan kita, meski hanya informasi, hanya rekomendasi, menghubungkan orang yang berada dalam kebingungan dengan mereka yang kompeten, dalam keengganan maupun suka rela, jika ditunaikan, bisa jadi adalah pintu pembuka berkah bagi orang lain dan bagi diri kita sendiri.

Dan keberkahan itu tak selalu terkait uang atau harta. Bisa saja ia berupa ketenangan hati, ditambahkan-Nya ilmu, diberi-Nya kita taufik untuk mengingat dosa-dosa yang terlupakan, dimudahkan-Nya urusan kita, dan ampunan-Nya atas banyak kelalaian kita.

Semoga kisah ini bermanfaat.

Catatan: jika ada masalah dengan TKI kita bisa menghubungi langsung telepon KBRI di negara bersangkutan, jangan lewat calo.

CC: Arif Bakhtiar & Pak Wisnu (Staff at Embassy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *