Adaptasi Homeschooler Di Sekolah Formal

Azkia senang belajar. Ia suka membaca, suka mengamati, suka bereksperimen juga. Satu hal yang saya khawatirkan ketika ia sekolah adalah layunya semangat belajar karena beban pelajaran yang terlalu bertumpuk. Sampai saat ini saya masih terus mengamati bagaimana sekolah mempengaruhi kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk.

Setelah hampir sebulan ini, pada minggu pertama memang ia terlihat keteteran. Pulang sekolah biasanya langsung terkapar. Pipinya memerah terkena terik matahari. Saya sempat berpikiran negatif, dan mulai bersiap jika ia mogok karena kelelahan.

Akan tetapi, setelah dua minggu ia beradaptasi, beberapa kebiasaan harian kembali ia kerjakan. Ia kembali membaca, kembali berusaha mengerjakan jatah pekerjaan rumah tanpa disuruh, dan tetap semangat mempelajari hal baru, termasuk mengoperasikan software Lego Digital Designer yang sedang ditekuni adiknya ­čÖé

Selain itu, ia juga tetap mau terus belajar piano walau jadwalnya berubah menjadi lebih sore, mengambil jadwal sepulang sekolah. Ia juga masih tetap ikut kungfu meski hanya seminggu sekali. Pe er buat saya sekarang nampaknya memang tinggal memberi suplai gizi yang lebih baik :).

Kesimpulan saya sementara ini, Azkia yang dibesarkan dengan pendidikan informal di level SD ternyata bisa dengan cepat menyesuaikan diri di sekolah. Bonus yang saya lihat dari homeschooling di tahap awal pendidikan adalah berakarnya kebiasaan positif. Jika sejak awal anak adalah seorang pecinta baca, nggak suka jajan, dan tidak dikenalkan kepada hasrat memiliki barang-barang mewah, maka kebiasaan itu bisa tetap bertahan meski anak-anak lain di sekelilingnya mungkin justru melakukan hal yang bertolak belakang.

Semoga  bisa terus demikian, dan Azkia juga  bisa mendapatkan hal-hal baru dari apa yang dijalaninya di sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *