Akhirnya Puteri Saya Sekolah

Usai lulus UNPK (meski ijazah belum keluar) awalnya kami akan tetap jalankan HS untuk Azkia. Meskipun Azkia terlihat ingin mencoba sekolah, namun saya merasa HS tetap lebih baik sejauh pandangan kami hari itu. Singkat kata, kamipun santai. Tak ada acara cari-cari sekolah dan semacam itu, karena kami mau terus HS. Kami fokus membeli buku-buku pelajaran SMP saja untuk mulai dipelajari dan saya mulai menyiapkan berbagai perencanaan kegiatan tambahan, untuk menyesuaikannya dengan Azkia yang mulai remaja.

Akan tetapi, entah dari mana datangnya, sebuah insight menghampiri hati saya. Apakah itu? Sejak kami memutuskan untuk tidak menyekolahkan anak, kami berjalan maju, dan tak bisa lagi mundur. Dan dalam perjalanan itu, saya selalu berdoa, semoga kami diberi kemampuan untuk mendidik anak-anak kami. Karena se-pe de apapun kami untuk menjalankan pendidikan rumah  (tanpa sekolah), apalah artinya jika Allah tidak memberi kami kemampuan untuk itu.

Namun selama ini, tanpa sadar saya selalu mendefinisikan kemampuan = skill kami atau ilmu kami secara teknis. Usia SD mungkin bisa kami anggap berhasil (dalam versi legal), akan tetapi pendidikan bukan hanya soal menguasai  hal-hal akademik dan menyetarakannya dengan produk sekolah formal. Pendidikan juga meliputi kemampuan untuk beradaptasi di tengah masyarakat, berkomunikasi dengan orang yang beragam, mengalami pertemanan yang menyenangkan sekaligus kontradiksi-kontradiksi di luar dirinya, belajar bekerja sama, leadership, belajar menghargai perbedaan, sekaligus mempraktikkan sikap asertif.



Apakah dengan HS pelajaran itu tidak bisa diperoleh? Tentu dengan HS pun bisa, namun itu berarti kami harus memfasilitasi secara sengaja bagian-bagian yang memang tidak bisa kami jalani sendirian. Dan sejauh yang kami alami, bukan hal mudah untuk memfasilitasi pertemuan bersama secara konsisten bersama komunitas. Tempat tinggal anggota komunitas yang berjauhan kurang memungkinkan melakukan kegiatan lebih sering. Selama ini pertemuan bersama komunitas hanya dilakukan seminggu sekali dalam kegiatan pramuka. Kami dari Tanjungsari meluangkan waktu setiap hari Kamis untuk bergabung bersama HSer Bandung. Sisanya, anak-anak lebih banyak melakukan kegiatan belajar online dan menjalani hal-hal yang tidak terjadwal.

Sementara itu,  waktu terus berjalan membentuk lajur-lajur “habit” yang kian mengakar, di mana puteri saya berada dalam sebuah zona nyaman yang  belum tentu merupakan kondisi yang terbaik dalam konteks pendidikan. Kami harus memilih dan tidak bisa hanya merenung. Setidaknya untuk level SMP kami coba beranikan diri untuk melepas anak ke sekolah, dengan serangkaian resiko yang mungkin mengiringinya.

Singkat cerita, dalam waktu yang sangat cepat, tanggal 31 Juli kami putuskan Azkia sekolah saja tahun ini. Bismillah, bermohon pada-Nya semoga dimudahkan segala sesuatunya. Kami browsing sekolah yang masih memungkinkan Azkia bisa mendaftar, dan suami saya juga coba hubungi seorang kawan yang menjadi wakepsek sebuah sekolah swasta. Takdir bergulir, sang kawan mengabari bahwa pendaftaran masih bisa dilakukan sampai tanggal 3 Agustus, dan akhirnya Azkia terdaftar. Selanjutnya kami benar-benar terpaksa harus hijrah ke Bandung setelah hampir 3 tahun rencana itu tertunda.

Luqman awalnya sedikit protes dengan semua kejutan dan ketidakstabilan itu, “Hah, gara-gara satu anak sekolah, kita harus pindah!” Dia berat meninggalkan ayam-ayam katenya yang sudah sangat jinak. Ia berat dengan banyak hal yang sudah terbiasa dilakukannya di Tanjungsari. Well, tapi saya percaya, di balik semua ini akan ada hikmahnya. Semoga pilihan ini adalah pilihan yang diberkahi Allah, bukan hanya tentang satu anak yang akhirnya bersekolah formal, namun juga membawa kami kepada situasi yang jauh lebih baik.

Dalam jangka pendek, Luqman pun bisa punya beberapa kegiatan baru yang bisa menunjang “passion”-nya. Dan bagi saya, dengan kepindahan ini berarti saya harus banyak melakukan penyesuaian. Jika awalnya cenderung santai, sekarang harus sigap menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk Azkia.

Satu hal lagi yang penting dari keputusan kami ini adalah mencoba mengukuhkan keyakinan kami bahwa perjuangan dalam dunia pendidikan, bukanlah tentang mengubah model dari sekolah ke non sekolah, sehingga kami menjadikan hal itu sebagai “mazhab” pendidikan paling benar dan kami menjadi fanatik dengan itu, namun tentang bagaimana pendidikan itu dijalankan sesuai dengan kebutuhan anak dan setiap orang berhak untuk memilih model yang dirasakannya cocok, tanpa menghakimi pilihan orang lain.

Saya menyadari  betapa kurikulum nasional kita cenderung membingungkan, berubah-ubah, dan terkesan tidak digarap secara matang, dan dalam praktiknya terlalu membebani anak. Namun hal itu tidak bisa menjadi alasan bagi saya untuk mengeliminasi kebutuhan sekolah secara makro. Banyak anak-anak tidak seberuntung anak lainnya yang memiliki orang tua berpengetahuan dan berpendidikan, serta punya waktu luang dan skill untuk memfasilitasi anak-anaknya belajar secara informal. Sekolah formal/nonformal  tetap diperlukan dalam lingkup makro, namun dengan perbaikan teknis yang harus terus ditingkatkan.

Saya sendiri tidak bisa memastikan apakah Azkia akan betah bersekolah hingga tamat 3 tahun. Saya tetap membuka peluang kepadanya untuk kembali menempuh jalur informal jika memang sudah merasa tak sanggup. Dan apa yang dijalaninya di sekolah mudah-mudahan menjadi pengalaman yang memperkaya kehidupannya.