Homeschooling dan Pertanian Organik

Meski tidak ada kontrak yang menetapkan bahwa ibu harus siap memberikan perhatian penuh pada anaknya setelah mereka lahir, namun sebetulnya hal itu adalah panggilan nurani yang  ditanamkan Allah di dalam hati setiap ibu. Karena itulah, wajar sekali jika kemudian muncul rasa bersalah, manakala ibu merasa terlalu sibuk mengurusi hal lain dan anak tidak terperhatikan dengan baik.

Saat seorang ibu memutuskan untuk menjalankan homeschool bersama anak-anak, ia tidak akan lepas dari “godaan” aktivitas kedua dan ketiga, terlebih jika  ibu harus bekerja karena kondisi-kondisi khusus. Ketika manajemen waktu yang diterapkan ibu tidak bagus,   anak pun  terlantar dan bisa jadi malah lebih terlantar dibandingkan anak yang bersekolah.

Namun, terlantarnya anak kadang tidak kentara. Hal itu baru kelihatan ketika anak-anak mulai berperilaku tidak biasa, menjengkelkan untuk mencari perhatian atau mengambil kendali otoritas jika orang tua juga lemah melakukan pendekatan persuasif. Protes mereka keluar dalam berbagai bentuk dari tingkat yang paling ringan hingga berat.

Bagaimana solusinya?

Dalam pandangan saya, menjalankan homeschool itu ibarat bertani secara organik. Ia mungkin bisa dilakukan dengan budget murah, namun ada sesuatu yang lain yang harus diberikan lebih banyak, yaitu perhatian dan perawatan.

Seorang petani modern yang menanam di lahan luas, untuk keperluan pasar, sudah memiliki cara-cara baku bertani yang lebih sederhana. Masa pembibitan, bibitnya tinggal beli di toko pertanian. Supaya tanaman cepat besar, mereka tinggal beli pupuk sintetis siap pakai. Ketika masa pertumbuhan, dan hama pertama mulai datang, mereka tinggal beli pestisida dan menyemprotkan racun pertama.  Ketika tanaman mulai besar, dan datang hama fase kedua, mereka cukup menyemprotkan pestisida untuk kedua kalinya, dan terus ketiga kalinya jika diperlukan pada masa hampir panen. Yang penting ada uang, pertanian melaju seperti  di jalan tol.

Hal itu sangat berbeda dengan petani organik. Benih yang ditanamnya biasanya diperoleh dari tabungan benih milik sendiri. Saat masa pertumbuhan tiba, mereka harus mengamati tanaman kalau-kalau ada hama dan biasanya mereka lebih mengandalkan pembasmian dengan tangan daripada penyemprotan. Jikapun dilakukan penyemprotan, mereka akan membuat pembasmi hama dari tumbuhan, yang prosesnya tidak sebentar.  Buat petani organik bermodal  besar, kadang mereka membangun rumah kaca untuk mencegah tanaman dikunjungi hama.

Demikian pula tenbtang pupuk, petani yang bercita-cita organik membuatnya dari bahan-bahan alami, mungkin pupuk kandang atau kompos. Pupuk kandang pun tidak selalu siap pakai, tapi harus dikeringkan  atau difermentasi supaya hasilnya bagus.

Kembali ke soal homeschool,  akan dibuat serius atau hanya alakadarnya, itu adalah pilihan masing-masing. Sangat personal dan tentunya merdeka. Namun secara umum, baik  homeschool ataupun tidak, sebenarnya orang tua  (khususnya ibu) harus siap mencurahkan waktunya untuk anak, terutama untuk menumbuhkan minat belajar alami mereka di masa-masa awal (0-6 tahun), menanamkan dasar-dasar kebiasaan hidup, dan membimbing pengelolaan emosi.

“Pengorbanan” orang tua di masa awal itu, adalah tabungan yang terbaik bagi anak dan juga orang tuanya. Seperti juga tanaman, ketika ia suduh masuk fase kuat untuk tumbuh, perawatan intensif tidak terlalu diperlukan lagi. Ia akan berjuang untuk tumbuh secara mandiri, dan orang tua hanya tinggal memfasilitasi hal-hal yang memang perlukan untuk menunjang pelajaran.

Untuk menemani anak tumbuh di masa-masa awal itu, ayah dan ibu membutuhkan ilmu pengasuhan,  gizi,  emosi, dan banyak lagi turunannya. Tapi, kesulitan untuk memperoleh ilmu-ilmu itu, insya Allah akan memperoleh jalan keluar ketika orang tua memang bersungguh-sungguh. Bukankah Dia Maha Mengetahui dan Maha Pemurah.

Ketika beberapa orang dengan angkuhnya berkata, “Mendidik anak itu tidak perlu ilmu apa-apa” atau “Ilmu pengasuhan anak itu hanyalah ilmu yang dibuat-buat saja, karena setiap orang tua itu sebenarnya tahu,” maka saya lebih memilih untuk tidak menggadaikan masa depan anak dengan hanya meraba-raba dan tunduk pada pandangan skeptis semacam itu. Ilmu toh tidak berat untuk dibawa.

Ketika kita bertekad menjalankan homeschool, ilmu pengasuhan menjadi sangat vital dan penting, karena dari situlah kita membuat pondasi untuk menempuh tamasya belajar yang menantang di depan sana.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *