Melayani Seorang Haptik-Visual Learner

Luqman termasuk anak yang sangat aktif bergerak, tapi di sisi lain ia juga seorang visual learner yang kuat. Ketertarikannya pada cara pembuatan benda-benda seringkali membuat ia “gelisah”, ingin tahu dan ingin bisa. Dan ajaibnya, ketika ia sedang mengerjakan proyek “hands on” kecenderungan haptiknya mendadak  hilang. Ia bisa duduk lama, berkonsentrasi pada pekerjaannya. Hal itu juga terjadi ketika asyik membaca buku-buku favoritnya walau gaya duduknya tetap haptik, berubah posisi tiap sebentar :).

Sejak umur dua tahun saya sudah mengizinkan ia memegang gunting, karena dia termasuk anak yang “unstoptable”. Saya hanya memberinya contoh cara menggunakan benda itu dan memberinya media untuk eksplorasi, entah kertas, kain, dan lain-lain. Namun hal itu tidak membuat peristiwa asal gunting menjadi nol. Layaknya anak-anak kecil, ia juga pernah menggunting kabel sembarangan dan beberapa benda penting terkena sasaran guntingnya. Namun makin ia besar, seiring pemahamannya tentang arti penting dari benda-benda, kecenderungan asal gunting makin berkurang. Sebagai gantinya, saya harus menyediakan secukup mungkin bahan untuk dia olah menjadi sesuatu. Istilah Luqman untuk aktivitas itu adalah: bikin-bikin.

Beberapa karya dia sebenarnya cukup unik. Sayangnya, hanya sedikit yang sempat saya dokumentasikan. Untuk anak seusianya, kemampuan dan minat menyempurnakan karya cukup tinggi. Karena itulah, saat melihat informasi tentang kelas visual arts yang diselenggarakan Jendela-Ide Sabuga saya tak ragu untuk mendaftar. Awalnya, seperti biasa, sebagai pembelajar mandiri kadang ada sifat kurang baik yang perlu diubah: Luqman tidak suka dengan intervensi dalam menjalani hobinya :). Dan saya tidak ingin membiarkan hal itu. Ia harus tetap belajar untuk terbuka terhadap masukan dari orang lain. Saya antar dia ke Sabuga, minimal untuk melihat dulu apa yang terjadi di sana.



Seperti sudah saya duga, proyek pertama di kelas visual arts, berupa mengolah media tanah liat, membuatnya excited. Ia malah bisa menyelesaikan 2 karya sekaligus. Dan sepulangnya dari sana ia terus bertanya di mana bisa menemukan tanah liat lagi. Stimulus berhasil, tinggal melanjutkan semua prosesnya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *