Novel vs Buku Akademik

Setiap kali bepergian, anak-anak kemungkinan besar akan membawa beberapa buku untuk dibaca di perjalanan. Tidak selalu buku baru, seringnya malah buku lama yang mereka baca ulang entah untuk ke berapa kali. Tapi kemarin (Kamis, 16 April 2016) ada sedikit anomali. Kalau biasanya Luqman baca buku-buku ringan dari jenis komik, saya lihat ia tengah serius banget memegang sebuah novel agak tebal. Terdengarlah celotehan, “Duh, jadi hoyong ceurik ini mah,”.

“Memangnya baca buku apa, De?” tanya saya. “Hafalan Sholat Delisa.” “Menghanyutkan ini mah bukunya,” ujarnya lagi. Meski ia sudah menonton kisah versi film, baca bukunya tetap lebih membekas ternyata.

Berandai-andai, baca buku pelajaran akademik bisa hanyut seperti baca novel. Entah siapa yang harus diubah, pembacanya atau bukunya, atau biarkan saja begitu adanya sebagai sebuah ciri khas :).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *