Reduce, Reuse, Recycle (Penuhi Bumi dengan Empati) 1

Siapa yang tak kenal slogan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Di sekolah-sekolah, di kaca-kaca mobil, di “dinding” halaman website, dan terutama di sisi depan tong sampah sering kita jumpai slogan ini terpajang dalam berbagai bentuk, dari stiker sampai banner. Seberapa efektifkah cara itu menggugah orang untuk menjalankannya, saya tidak tahu. Namun sebagai orang tua, saya merasa perlu untuk mempelajari lebih jauh konsep ini sebagai materi edukasi. Betapapun hanya sedikit yang bisa kami praktikkan, namun saya melihat, pengaruhnya sangat baik terhadap anak-anak.

Awalnya, saya melihat 3R hanya sebuah jargon, laiknya jargon-jargon lain yang kadang ramai dibincangkan namun kemudian tenggelam karena orang mulai bosan. Namun pandangan saya berubah setelah banyak membaca, berteman, dan melihat postingan para praktisi 3R (meski mereka tidak pernah menamai diri mereka dengan istilah itu ). Mereka tidak begitu fokus pada slogan, namun berusaha untuk menjalankan prinsip itu dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap hari, mereka akan tertantang untuk mengambil pilihan yang senafas dengan 3R. Beberapa contoh kecil, misalnya: membawa bekal minuman dan makanan saat bepergian, memilih makanan berkemasan bahan alam daripada plastik, memperbanyak makanan alami daripada makanan olahan, menyedikitkan tabungan pakaian baru, bawa kantong belanja sendiri daripada kantong kresek, mengomposkan sampah, mengoptimalkan barang lama daripada beli baru, naik angkutan umum daripada kendaraan pribadi, jalan kaki daripada naik motor, dan lain sebagainya.

Di tengah arus pemikiran yang materialistik, di mana orang justru berlomba untuk memiliki berbagai macam barang dan berusaha tampil full gadget di tengah kawan dan kerabat, pilihan hidup semacam itu sangatlah menakjubkan bagi saya. Semua itu membuat saya banyak merenungkan ulang pemahaman-pemahaman lama saya, gaya hidup saya, lalu membenturkannya dengan ajaran-ajaran suci para Nabi yang mengusung kesederhanaan dan kepedulian. Saya akhirnya melihat sisi lain dari 3R. Prinsip itu bukanlah semata istilah yang relevan dengan isu-isu lingkungan, melainkan pilihan cara hidup yang bermuatan nilai-nilai luhur dan patut dipertimbangkan. Dan saya harus berterima kasih kepada beberapa teman yang sudah memperkenalkan ide berharga ini kepada saya.

Bagaimana saya secara khusus memaknai 3R, akan saya lanjutkan dalam postingan terpisah, insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *