Seperti Apa Keadilan Itu: Sebuah Kisah dari Rumah

Suatu hari, saya sedang di depan laptop, dan mendengar Azkia memanggil adiknya, “Dee, please laah, jangan suka mencorat-coret buku peminjaman…”. Dari nada suaranya, saya tahu, ia marah tapi berusaha menahannya.

Dan adiknya, yang sedang khusyuk mengupas mangga, juga tahu persis tak bisa mengelak, apalagi ketika ibunya mulai berkomentar juga, “Tuh De, kasihan Si Kakak. Dia itu melankolis. Jangan bikin stress, nanti si kakak kurus…”

Sepintas saya dengar ada tawa kecil di dua arah: satu dari dapur dan satunya lagi dari ruang tamu.



Sekitar 15 menit kemudian….

Saat Luqman ngeloyor ke luar, Azkia pergi dapur. Ia melihat sepiring mangga sudah tersaji, lengkap dengan garpunya. Langsung ia berkomentar, “Waah, manggaa…. siapa mau?” Piring berisi mangga dibawanya ke meja saya.

Saya: Kakak tahu nggak siapa yang motongin mangga itu?
Azkia: Enggak. Emang siapa?
Saya: Si Ade
Azkia: Trus emangnya kenapa?
Saya: Kalau dibandingkan, corat-coret di buku peminjaman dan kerjaannya mengupas mangga, mana yang lebih berat bobotnya?
Azkia: Emmm, sama kali? he he…
Saya: Ya anggaplah sama, tapi kenapa ketika Ade corat-coret, kakak semangat banget mengkritik, tapi ketika dia sudah berbuat baik kakak nggak komen juga untuk berterima kasih?

Sambil menyuapkan sepotong mangga, “Deee…. ha ha…”
Si Kakak pergi ke luar.

Bersikap adil itu memang nggak mudah. Bahkan dalam hal-hal kecil pun, adakalanya kita sering lupa.

One thought on “Seperti Apa Keadilan Itu: Sebuah Kisah dari Rumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *