Biasakan Anak Menuntaskan Pekerjaan

Ada 3 hal menarik yang saya cerna, saat suami saya membacakan sharing pengalaman parenting seorang pengusaha ternama, kurang lebih sebagai berikut:

(1) Biasakan anak menyelesaikan sebuah kegiatan dari awal sampai tuntas.

(2) Biasakan anak untuk menghasilkan sesuatu dengan memanfaatkan sumber daya seefisien mungkin.

(3) Tanamkan di benak anak-anak bahwa kejujuran itu sangat besar nilainya, kendati untuk jujur dia harus mengorbankan sesuatu yang sangat dia inginkan.

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang poin pertama, yaitu membiasakan anak menyelesaikan sebuah kegiatan dari awal sampai tuntas. Konon, menurut sang pengusaha, kemampuan menuntaskan pekerjaan merupakan salah satu karakter yang dibutuhkan di era global.

Kalau dipikir-pikir ada benarnya, bukan hanya kelak, namun  sejak dulu dan sekarang. Kapabilitas seseorang tidaklah diukur dari ijazah, melainkan attitude (sikap).

Dari sisi muamalah, kita pun pasti sepakat bahwa seorang klien akan cenderung memberikan proyek pekerjaan kepada orang-orang yang bisa dipercaya integritasnya dalam memenuhi  janji. Jika  tindakan  seseorang tidak selaras dengan janjinya, maka ia pasti tersingkir dari percaturan.

Dan dari sisi spiritual, bukankah Allah pun  berfirman dalam Al Quran, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Q.S Al Insyirah:7)

Setelah memahami konsep itu, saya coba mulai terapkan lebih serius proyek pembiasaan ini. Saya mulai dengan memberi tugas dalam area terbatas, yang kemungkinan anak sanggupi dan dia sendiri memang mengatakan sanggup. Hal ini mirip dengan teknik membuat anak menghabiskan jatah makannya. Sedikit tapi habis.

Azkia misalnya, biasanya dia mencuci piring alakadarnya hanya sampai beberapa perabot tercuci, lalu pergi bermain. Sekarang saya coba tantang mencuci piring sampai wastafelnya dan saringannya bersih, juga semua kotoran di dinding. Resikonya, otomatis, saya harus  harus meluangkan waktu untuk memberikan contoh cara membersihkan saringan dan alat-alat yang diperlukan.

Luqman, tanggung jawab utamanya baru pada 2 hal, yaitu: mencuci setiap perabot (gelas, sendok,  atau piring) yang sudah dia gunakan, langsung, tanpa ditunda dan membereskan setiap serpihan bahan prakarya yang berserakan di kamarnya.

Efeknya sudah terasa. Setidaknya, setelah aturan cuci langsung diberlakukan, cucian di wastafel saat pagi hari tidak terlalu menumpuk :). Karpet di kamar Luqman juga semakin lebih sering bersih sehabis bikin-bikin kreasi. Selain  itu,  ketangkasan tangan mereka juga makin terlatih. Banyak manfaatnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *