Sambiloto, Sebuah Perumpamaan

Jika orang awam ditanya tentang daun ini, kemungkinan komentarnya akan berada di seputar hal-hal fisik, seperti, “Ini adalah daun berwarna hijau, bentuknya lonjong, ujung daun meruncing, dan rasanya pahit.”

Sementara orang yang sudah tahu sedikit akan berkata, “Ini adalah tumbuhan obat yang bisa mengobat beberapa penyakit.”

sambilotoNamun orang yang sudah makin luas pengetahuannya, mungkin akan bicara lebih mendalam, meski ia sendiri belum melakukan penelitian langsung. Ia bisa menjelaskan apa saja kandungan zat di dalam daun, batang, dan bunga, serta tahu apa kegunaan setiap zat serta apa efek sampingnya jika digunakan dalam kadar tertentu.

Lalu bagaimana dengan orang yang berilmu lebih tinggi lagi, misalnya ahli biokimia? Ia tentu punya pengetahuan dan kemampuan jauh lebih terperinci. Daun tak dipandang semata daun, yang cukup dinilai secara fisik atau dimanfaatkan sesuai informasi dari mulut ke mulut. Ia memiliki keahlian untuk menguraikan atau memisahkan setiap zat dalam tumbuhan sambiloto, sehingga nampaklah jati diri setiap unsur yang ada di dalamnya, sehingga terbukalah tabir mengapa ia bisa menjadi obat untuk beberapa penyakit, sekaligus bisa beracun jika dikonsumsi dalam jumlah terlalu banyak.

Sayapun berkesimpulan, cara pandang orang terhadap sesuatu ternyata memang tak bisa dipaksa sama. Semua sangat dipengaruhi oleh seberapa luas dan tinggi tingkatan pengetahuan dan ilmunya.

Satu contoh kasus, mengapa ada orang-orang yang begitu sabar ketika diperlakukan tidak baik, di saat sebenarnya ia bisa membalas? Jika awalnya saya merasa heran, namun kini mulai mengerti. Hal itu hanyalah perwujudan dari level kearifan yang ia miliki, yang bagi orang-orang seperti saya, masih sulit untuk mencapainya.

-Sekadar sebuah renungan-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *