Software Open Source Andalan Kami

Setahun efektif kami di rumah mulai nyaman mempergunakan Sistem Operasi Ubuntu untuk ketiga komputer yang ada. Ketertarikan terhadap sistem operasi open source ini berawal dari perbincangan dengan seorang kawan. Ngalor ngidul ke sana kemari, ujungnya saya disadarkan bahwa software yang selama ini kami gunakan tidaklah legal. Daripada makin terbiasa dengan yang syubhat sementara kami merasa berat untuk membelinya, OS open source adalah pilihan yang terbaik menurut kami.

apel

Gambar apel ini saya buat menggunakan Inkscape. Tidak terlalu buruk, bukan? 🙂

Percobaan pertama diawali dengan Mandriva 2010. Kawan baik saya, Mbak Maria Magdalena dari Sidoarjo, berbaik hati mengirimkan filenya di dalam CD. Atas bantuan suami saya, akhirnya jadilah sang Mandriva terinstall di komputer saya. Awalnya kikuk, sedikit bingung. Tapi setelah berusaha untuk terus “menaklukannya”, lama-lama saya terbiasa menggunakannya. Cara kerja berbagai program di Mandriva sebenarnya tak jauh beda dari software berbayar. Hanya nama dan beberapa “tools” yang sedikit berbeda. Jam terbang yang makin banyak alhamdulillah bisa memecahkan satu demi satu kebuntuannya.

Anak-anak awalnya enggan memakai OS gratisan ini karena tidak “familiar”, begitu juga suami saya. Tapi tahun 2013 alhamdulillah kami semua kompak mau memakai OS open source saja. Kali ini bukan lagi Mandriva. Kami beralih ke tipe lainnya yang juga banyak digunakan, yaitu ubuntu.

Makin hari, makin terbiasa. Beberapa pekerjaan penulisan dan surat-menyurat kantor sudah biasa kami proses menggunakan program setara office di ubuntu. Meskipun “mesin” pemroses berbeda, namun hasilnya bisa disimpan dalam format program berbayar. Libre office writer misalnya, bisa menyimpan data tak hanya dalam ekstensi .odt melainkan juga .doc atau .rtf. Karena jika kita harus mengirim surat kepada kawan, instansi, atau perusahaan yang menggunakan windows, format .odt tentunya tidak akan bisa dibaca.

Berikut ini program-program yang kami pakai setelah mengenal OS ubuntu. Beberapa di antaranya sebenarnya juga bisa dioperasikan pada OS windows, namun saya justru mengenalnya setelah bersentuhan dengan ubuntu:
LibreOffice (untuk menggantikan office)
Inkscape (untuk menggantikan corel draw)
GIMP (untuk menggantikan Photoshop)
ScribusNg (untuk menggantikan Adobe inDesign)
Brasero Disc Burner (untuk menggantikan Nero)
Kdenlive (untuk mengedit video)
SoundKonverter (untuk melakukan konversi file suara)
Audacious (untuk mendengarkan musik)
Stellarium (untuk bermain skematika astronomi)
TUxMath (untuk berlatih matematika)
dll, dan semuanya gratis alhamdulillah.

Nah, buat teman-teman yang tertarik juga mencoba OS opensource bisa kunjungi tautan ini untuk menambah referensi terlebih dahulu:
http://ridjam.wordpress.com/2014/01/21/anggapan-anggapan-salah-tentang-software-free-dan-open-source/
http://fti.tarumanagara.ac.id/poss/index.php/warta/berita-dunia/6-pakai-open-source-bikin-kita-lebih-pintar
http://openpenguin.blogspot.com/2008/04/distribusi-atau-distro-linux.html

Selamat menjelajah dan mencoba! 😀

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *